Abdul Munir Mulkhan ~ Marhaenis Muhammadiyah (2010)

Rp 60.000,00

Judul: Marhaenis Muhammadiyah
Penulis: Abdul Munir Mulkhan
Penerbit: Galang Press
Tebal: 326 hlm
Tahun Terbit: 2010

Stok 1

Keterangan

Sinopsis:

“Memperjuangkan marhaen berarti juga memperjuangkan kaum duafa.”
–Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., Ketua Umum PP Muhammadiyah

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukanlah kesatuan entitas yang seragam atau homogen. Keberagaman model kepengikutan itu muncul karena adanya gesekan manakala doktrin tarjih Muhammadiyah pascakepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan diberlakukan secara kaku. Konsep Islam murni syariahistis itu akibat dari mendominasinya elite ahli syariah yang ingin memusnahkan tradisi TBC (tahyul, bid’ah, dan c(k)hurafat), bahkan tak jarang cara-cara kekerasan ditempuh demi menegakkan syariah. Gerakan pemurnian Islam seperti itu jelas berseberangan dengan latar belakang kultural masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian petani. Mereka tertarik bergabung dengan Muhammadiyah manakala gerakan yang menawarkan pembaruan ini meluas ke pedesaan.

Sangatlah wajar apabila kaum petani itu merasa asing dengan konsep Islam fundamentalis. Sebaliknya, mereka justru merasa nyaman dengan pola pemurnian Islam yang dibawa oleh Kiai Ahmad Dahlan yang mengedepankan kesalehan spiritual. Karena pergulatan ideologi itulah, muncullah model kepengikutan yang dinamakan Marhaenis Muhammadiyah, nama sebutan bagi sekelompok orang di suatu tempat di pedesaan, persisnya di Wuluhan, Jember, Jawa Timur, yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah. Bagi kaum tani, menjadi Muhammadiyah akan memiliki arti apabila sesuai dunia makna magis, bukan etis. Upacara ritual TBC, diubah maknanya sebagai tradisi dan sebagai media berbuat baik dan berbakti kepada ”orang tua” atau untuk membangun jaringan dakwah. TBC tidak serta merta ditolak, tapi Islam murni di-pribumisasi, sehingga taklid, slametan kematian, dan tahlilan merupakan gejala umum yang dianut pengikut gerakan ini.

Marhaenis Muhammadiyah ibarat ”teologi petani” atau ”jalan baru” Islam yang bisa mendorong etos kerja produktif serta mengembangkan pemikiran Islam yang inklusif. Dari sinilah, kehidupan masyarakat pluralis demokratis tumbuh dengan subur.

 

CATATAN: Jika sulit untuk login, silakan hubungi jalur cepat Gudang Warung Arsip via SMS/Wasap ~ 0878-39137-459 (Pesan Cepat)

Additional Information

Weight 0.4 kg