S. Anantaguna ~ Puisi-Puisi dari Penjara (2010)

Rp 30.000,00

Penulis: S. Anantaguna
Penerbit: Ultimus
Tahun: 2010
Tebal: xx + 152 hlm
ISBN: 978-602-833-108-1

  • Lokasi Stok: Gudang Warsip
  • Kondisi: Baru

Stok 1

SKU: BU_498 Kategori: Label , , , ,

Keterangan

CATATAN: Jika sulit untuk login, silakan hubungi jalur cepat Gudang Warung Arsip via SMS/Wasap ~ 0878-3913-7459 (Pesan Cepat)

 

S. Anantaguna, lahir di Manisrenggo, Jawa Tengah, tahun 1929. Mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Jogjakarta dan pernah menjabat sebagai salah satu pimpinan sekretariat pusat Lekra. Ditahan selama 13 tahun tanpa diadili sejak 1965 sampai 1978. Buku yang sudah ditulis: Kumpulan Puisi Yang Bertanah Air Tidak Bertanah. Karangannya juga dimuat di dalam kumpulan cerita pendek Api 26. Dengan nama Santoso S.P. mendapat hadiah pertama dari PDK tahun 1980 dengan judul “Mewarisi dan Memperbaharui Kebudayaan Nasional”.

Membaca puisi-puisi Sabar Anantaguna serasa membaca sebuah novel yang menarik dari awal hingga akhir. Di sela-sela metaforanya yang indah, puisinya yang berirama, terselip banyak filsafat hidup dari seorang penyair yang begitu akrab dengan sel dan jeruji besi yang pernah merampas kebebasannya. Indah dan tragis terbaca dalam sajak-sajak Sabar Anantaguna.
Asahan Aidit, filolog

Sajaknya pak Sabar telah menelanjangi ketidakadilan di Indonesia dan juga mengingatkan kita semua jangan melupakan Tragedi Nasional 1965. Saya sarankan agar generasi muda membaca karya pak Sabar untuk mengasah pemikiran demi perjuangan menegakkan keadilan.
Heri Latief, penyair

Bung Sabar Anantaguna, penyair senior Lekra perlu diberi selamat, karena pada usianya yang sudah delapan puluhan masih produktif menulis puisi, sebagai bentangan sejarah, dan sering menjadi pembahas buku sastra di beberapa kesempatan. Di kalangan seniman-seniman Lekra puisi-puisi Bung Sabar sering dibahas dan dipergunjingkan oleh yuniornya, yang nakal dan jahil.
Putu Oka Sukanta, Lekra

Kalau pemerintahlah yang sebenarnya melakukan “penyelewengan negara besar-besaran” itu, lantas kenapa para sastrawan yang menjadi anggota organisasi seni bernama Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra harus dikambing-hitamkan dalam peristiwa “penyelewengan negara besar-besaran” tersebut?
Saut Situmorang, penyair

Luar biasa! Saya menempatkan sastrawan-sastrawan Lekra ke tempat yang terhormat kembali. Dalam pandangan saya, posisi mereka sebagai sastrawan senantiasa berada di tengah-tengah rakyatnya. Ada kewajiban bagi sastrawan Lekra untuk benar-benar menyelami dan menghayati penderitaan masyarakat yang ada di lingkungannya dan kemudian mereka mengartikulasikan apa yang dirasakan rakyat melalui karya-karyanya.
Asep Sambodja, pengamat sastra

Additional Information

Weight 0.4 kg