Singh & Abdul Munir ~ Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia (2012)

Rp 35.000,00

Judul: Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia
Penulis: Bilveer Singh & Abdul Munir Mulkhan
Penerbit: Jogja Bangkit Publisher
Tebal: 160 hlm
Tahun Terbit: 2012

Stok 2

Keterangan

Sinopsis:

Mencari mati syahid menjadi prinsip suci para pelaku bom bunuh diri. Mereka adalah penganut doktrin istisyhad yang memegang kuat keyakinan teologis dan historis yang mereka anggap sebagai jalan kebenaran. Keyakinan yang menampakkan wajah kekejaman, di mata mayoritas masyarakat yang hidup dalam kemajemukan peradaban dan agama. Namun sebaliknya, para penganut doktrin istisyhad ini merasa bahwa aksi yang mereka lakukan memiliki tujuan mulia bagi kemanusiaan dan menciptakan tata kehidupan dunia yang lebih damai dan sejahtera. Di sinilah garis batas keras mengenai cara pandang para penganut paham istisyhad terhadap kehidupan. Di satu sisi mereka mendambakan kedamaian dan kebenaran yang sejalan dengan doktrin mereka, tapi di sisi lain, mereka tak gentar mewujudkan pemahaman mereka itu sekalipun nyawa taruhannya.

Ideologi istisyhad bisa berkembang di mana saja. Dari kalangan rakyat kebanyakan, tidak berpendidikan, hingga tumbuh subur di kalangan kaum terdidik dengan ekonomi relatif mapan. Dari sini ditanamkan doktrin ‘isy karieman au mut syahiidan (hiduplah mulia atau mati syahid saja) di kalangan aktivis muda melalui berbagai wahana. Tak heran, lahirlah kaum radikal yang memerangi kekuatan anti-Islam bangsa-bangsa Barat. Murka pun mencapai ubun-ubun karena mereka merasa tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan konsep kebaikan dan kearifan mereka lantaran sistem toghutyzng terus “dipaksakan” oleh bangsa-bangsa Barat.

Mereka merindukan romantisme kejayaan Islam masa lalu ketika Islam berada di puncak peradaban keemasan. Ingatan akan Perang Salib, mereka konteks-tualisasikan pada zaman ini. Mereka menilai kekuatan jahat anti-Islam yang terdiri dari: Yahudi, Nasrani, dan bangsa-bangsa Barat beserta pendukungnya bersekongkol menghancurkan Islam. Itulah sebabnya, para generasi muda radikal ini teramat ingin memuaskan dahaga kerinduan mereka untuk menyaksikan keruntuhan peradaban bangsa Barat atau memperjuangkannya lewat mati syahid.

Doktrin istisyhad disertai kekerasan itu telah melukai nilai-nilai kemanusiaan. Sudah bukan zamannya, prinsip suci itu dimaknai secara harafiah. Kini, muncullah sebuah generasi yang ingin memulihkan pemahaman istisyhad sesuai semangat zaman. Mereka meninggalkan cara-cara kekerasan dan selanjutnya mulai mengem-bangkan islam otentik yang ramah bagi semua orang, serta mengajak semua kekuatan Islam dan bangsa untuk membangun kemakmuran ekonomi yang saleh bagi kemaslahatan umat manusia.

Berat 0.2 kg