Martin Suryajaya ~ Sejarah Estetika (2016)

Rp 300.000,00

Judul: Sejarah Estetika: Era Klasik Sampai Kontemporer
Penulis: Martin Suryajaya
Penerbit: Gang Kabel & Indie Book Corner
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 944 hlm
ISBN: 978-602-30918-1-2

  • Kondisi: Baru
  • Lokasi Stok: Gudang Warsip
  • Versi Produksi: Hardcover/Cetak Massal

Stok habis

SKU: BU_413 Kategori: Label , ,

Keterangan

CATATAN: Jika sulit untuk login, silakan hubungi jalur cepat Gudang Warung Arsip via SMS/Wasap ~ 0878-39137-459 (Pesan Cepat)

 

Dalam buku setebal nyaris 1000 halaman ini, diuraikan sejarah estetika sebagai filsafat kesenian sejak masa prasejarah hingga abad ke-21. Dipenuhi dengan penelusuran ke sumber-sumber primer, buku ini membekali pembaca dengan piranti konseptual yang berguna dalam kritik seni dan sastra, kurasi maupun praktik berkesenian itu sendiri.

***

Apa yang kita bayangkan jika mendengar kata “estetika” di masa kini? Klinik kecantikan—bagi kaum perempuan khususnya—dengan fasad kaca bening dihiasi citra raut cantik yang tampak bling-bling? Pemerintah Orde Lama dimasa lalu sering disebut berbakat “estetik” karena lebih mementingkan bentuk ketimbang isi, dan dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang dandy.

Buku ini membentang-luaskan sejarah pemikiran dan perdebatan tentang wacana yang kita sebut “estetika”. Inilah warisan dari abad ke-18 yang mengadopsi kata dalam bahasa Yunani, “aesthêsis” yang berarti pencerapan inderawi. Melalui wacana este tika, seni dikaji sebagai gugus estetik (aesthetic entities), dan segera dibedakan dengan entitas nalar atau pikiran rasional (noetic entities). Kaitan estetika dengan “yang indah” kiranya ber mula dari kajian mengenai hal-ihwal yang kita persepsi, apakah berkenaan dengan “sikap estetik” atau “obyek estetik”. Keyakinan pada masa pencerahan bahwa di dalam diri kita ada semacam kemampuan untuk menghayati cita-rasa (disebut “Faculty of Taste”), mendorong munculnya pembedaan antara apa yang dianggap indah dan tidak indah. Pengalaman estetik—berhubungan dengan “sikap estetik” dan “obyek estetik”—merangsang masalah baru ketika muncul anggapan bahwa ada orang yang memiliki cita-rasa lebih canggih ketika berhadapan dengan ekspresi seni dibandingkan yang lain, yang “selera”nya dianggap belum cukup berkembang.

Sebagai studi tentang gejala yang disebut “yang indah”, kajian estetika sebenarnya tidak terbatas pada lingkup seni, karena ke indahan tidak hanya melekat pada fenomena artistik, tapi juga alam.

Inilah jalur estetika sebagai perkembangan dari tradisi filsafat keindahan. Ketika studi estetika kelak dimaknai sebagai fil safat seni, muncul anggapan bahwa semua yang dianggap seni mesti nya memiliki bobot estetik. Tapi kemudian perkembangan seni justru menunjukkan, bahwa menjadi estetis bukanlah sya ratyang diperlukan oleh seni. Dalam arti itulah “filsafat seni” berpisah dengan estetika yang berkutat dengan ihwal persepi serta ideal-ideal keindahan.

Buku “Sejarah Estetika” karya Martin Suryajaya ini justru mema parkan, bahwa gejala yang belakangan kita kaitkan dengan isti lah “estetika” sejak abad ke-18 sesungguhnya bisa saja dilacak sam pai jauh ke belakang. Ketika manusia mulai menggunakan alat-alatnya yang paling bersahaja untuk bertahan hidup, pada saat itulah lahir suatu bentuk – sesuai dengan kegunaan praktisnya—yang bias dipersepsi

Secara “estetis”. Martin dengan telaten menyusuri gejala “bentuk” keindahan sejak masa purba: kapak batu dari zaman “teknologi Oldowan” yang ditemukan di Ngarai Olduvai, daratan Afrika, berasal dari zaman Paleolitik Rendah (sekitar 2,6 juta tahun SM). Bentuk benda ini sudah diasah dan ujungnya menunjukkan kepekaan pada “estetika” yang kekal, apa lagi kalau bukan rupa-kesetangkupan” (simetri). (Teknologi) kapak batulah yang dipersepsi Martin melahirkan karya seni pertama di dalam perjalanan peradaban manusia. Itulah pula rupa “yang indah” yang tetap berhubungan dengan rasa-merasa es tetis kita di masa kini. Jika di dalam sejarah seni (rupa), ahli sejarah seni menempatkan “tangan yang melambai” di dinding batu sebagai karya seni pertama, itu adalah bias sensibilitas modern yang terlanjur membikin “distingsi dari abad ke-19 antara apa yang kita sebut sebagai “seni murni” (fine art) dan “seni terapan” (applied art).

Dengan buku ini, Martin keluar dari kebiasaan orang membahas estetika, yang umumnya membuat semacam garis besar, misalnya dari masa Yunani klasik atau masa modern sebagai jalan pintas untuk memasuki wacana estetika.

Untuk memahami hubungan yang lebih rumit antara estetika dan perkembangan berbagai cabang seni, maka bagi Martin, estetika tidak lagi dianggap cukup untuk dipahami sebagai jalur dalam “filsafat keindahan”, melainkan sebagai “filsafat kesenian”. Alih­alih mengatakan bahwa filsafat seni berpisah dari kajian mengenai estetika, Martin justru mempertahankan istilah dan keluasan kajian “estetika” (refleksi tentang nilai estetis, pengalaman estetis, seni yang non atau kontra-estetis, hubungan seni

dan masyarakat, dan seterusnya) sebagai “filsafat kesenian”. Di situ lah letak sumbangan estetika bagi perkembangan seni, yakni “sumbangan teoritisnya yang berguna dalam perumusan kritik seni yang memadai”.

Tentunya kita berharap bahwa dengan penerbitan buku ini, mereka yang terlibat di dunia seni lebih memahami kom pleksitas perkembangan seni dan kait-kelindannya dengan wa cana es tetika. Para seniman tidak sekadar ge-er membayang-bayangkan seni yang manapun lahir mendahului refleksi teoritis, istilah “keindahan” atau “anti keindahan” digunakan sebatas jargon tanpa mengenali argumen-argumen yang kaya yang menjelujur jauh di belakang perdebatan itu. Mestinya sudah sejak lama buku semacam ini hadir di dalam khasanah pustaka seni kita.

Energi dan ketekunan studi Martin Suryajaya untuk mendedahkan jelujur perdebatan di dalam sejarah estetika dan pemikiran seni sungguh menantang. Tanpa bermaksud membangun sebuah system pemikiran tentang estetika, dia yakin bahwa “kerja membangun sistem baru dapat dilakukan setelah survey sejarah pemikiran dituntaskan”. Dengan kata lain, buku ini meng isi lubang besar paparan sejarah mengenai estetika dalam khasanah bacaan seni kita di Indonesia yang selama dibiarkan menganga lebar, lubang yang membuat berbagai perdebatan seni sering kejeblos tanpa arah dan rujukan memadai. (Sumber: Indie Book Corner)

Additional Information

Weight 1.3 kg