Masalah Fermentasi Biji Kakao (Business News, No. 6722 Th. XLVI, 4 Februari 2002)

Rp 0,00

Penerbit: Business News
Edisi: No 6722 Th. XLVI, 04 Februari 2002, hlm. 11
Tebal: 1 hlm
Produksi: Digital | PDF

Stok 20

Keterangan

“Hampir setiap bulan selalu terjadi kasus penolakan produk biji kakao dari Indonesia oleh importir Amerika Serikat. Penyebabnya, terutama karena kakao yang kita kirim tidak memenuhi standar mutu internasional (Codex). Pada bulan Agustus 2001 misalnya, ada 39 kasus penolakan produk Indonesia. Dari 39 kasus tersebut, hanya ada 4 kasus penolakan produk bukan kakao. Yakni 2 produk nanas ┬ádan 2 produk lada putih. Sisanya, sebanyak 35 kasus berupa penolakan produk biji kakao. Bulan Oktober 2001 tercatat 50 kasus penolakan dan sebanyak 45 kasus tersebut menyangkut produk biji kakao. Padahal, sebagian besar dari biji kakao yang kita ekspor, berasal dari perkebunan besar swasta maupun BUMN (Badan Usaha Milik Negara) (PTPN – Perseroan Terbatas Perkebunan Negara). Sebab meskipun luas areal perkebunan kakao rakyat sekitar 60% dari perkebunan besar swasta dan PTPN, namun tingkat produktivitas kebun rakyat masih relatif rendah, yakni hanya sekitar 50% dari yang dihasilkan oleh perkebunan besar. Biji-biji kakao yang ditolak oleh importir tersebut sebagian merupakan produk PTPN, sebagian produk perkebunan besar swasta dan lainnya merupakan hasil perkebunan rakyat. Kalau biji kakao yang diproduksi oleh perkebunan besar pun masih bisa ditolak importir, maka tak terbayangkan bagaimana nasih kakao rakyat yang rata-rata kualitasnya masih jauh lebih rendah lagi. Di beberapa sentra kakao di P. Sumatra, P. Kalimantan dan P. Sulawesi, para petani kakao memang terbiasa menjual produk mereka berupa buah segar kepada tengkulak. Hingga para petani tersebut tidak pernah tahu bagaimana melakukan fermentasi biji kakao.”

 

CATATAN: Jika sulit untuk login, silakan hubungi jalur cepat Gudang Warung Arsip via SMS/Wasap ~ 0878-39137-459 (Pesan Cepat)

Additional Information

Weight 0.1 kg