Uang Kuno: Lelang Uang yang Lengang

Rp 5.000,00

Penulis: Rofiah Rusmiyati
Media: TIRAS
Tahun: 1996, No. 32, 5 September 1996
Halaman: 52-53
Ukuran: 10,4 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9529 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Rendahnya penawaran tersebut terjadi karena hobi mengoleksi benda terbatas seperti uang kuno tampaknya memang belum berkembang dengan baik di Indonesia.” (Halaman 52)

“Kalau terlalu memaksa, bisa-bisa malah pikiran kita jadi terbebani. Akhirnya tujuan kita untuk menjadikan hobi ini sebagai hiburan tidak tercapai.” (Halaman 52)

Artikel berjudul “Lelang Uang yang Lengang” dalam Majalah TIRAS edisi 5 September 1996 mengulas tentang pelaksanaan lelang uang kuno (numismatik) yang sepi peminat dan gagal mencapai target. Acara lelang tersebut diselenggarakan oleh Stan Departemen Keuangan dalam rangka pameran pembangunan di taman Monas, Jakarta, pada Senin, 19 Agustus 1996. Meskipun tim penilai telah memverifikasi keotentikan barang, lelang berjalan tanpa satu pun koleksi yang berhasil terjual. Hal ini dipicu oleh sikap para kolektor yang menganggap harga patokan yang ditetapkan oleh pemilik uang terlalu tinggi.

Salah satu contoh kegagalan lelang dialami oleh Agnes Valentina, seorang mantan pramugari Sempati Air Lines. Ia menawarkan koleksinya yang terdiri dari 167 buah uang kertas dan uang logam Indonesia terbitan tahun 1930 sampai 1977 senilai Rp5 juta, namun penawaran tertinggi peserta hanya mentok di angka Rp910.000. Kolektor lain, Asnawi Lubis, juga enggan melepas 319 keping koleksinya yang ditawar seharga Rp1,6 juta karena merasa nilai tersebut belum pantas. Lesunya penawaran ini mencerminkan bahwa apresiasi masyarakat terhadap hobi mengoleksi benda bersejarah seperti uang kuno masih sangat rendah di Indonesia, terbukti dengan hilangnya toko-toko uang kuno di Jakarta yang sempat marak pada periode 1976–1979.

Menjadi kolektor numismatik menuntut kecermatan tinggi terhadap fisik barang (keutuhan, nomor seri, jumlah cetakan, dan rentang edar). Selain itu, kolektor di Indonesia dihadapkan pada beratnya tantangan perawatan uang kertas dari kelembapan udara atau rayap, sulitnya mencari album penyimpanan khusus di pasar lokal, serta sangat jarangnya penyelenggaraan lelang resmi. Hasbullah, selaku Kepala Lelang dari Kantor Lelang Negara (KLN) Jakarta, mengungkapkan bahwa KLN hanya bisa memfasilitasi lelang apabila ada pemilik yang mengajukan secara sukarela serta menyertakan uang jaminan. Kendati demikian, pemerintah berharap regulasi deregulasi yang mengizinkan pihak swasta mendirikan badan lelang sendiri dapat merangsang kembali minat masyarakat, sehingga uang kuno dapat dipandang sebagai benda seni bernilai tinggi, bukan sekadar alat pembayaran usang.

NARASUMBER

– Asnawi Lubis: Anggota International Banknotes Society (IBS) dan ayah dua anak yang telah mengumpulkan uang antik sejak tahun 1952. Beliau memberikan banyak kesaksian mengenai teknis merawat uang kuno, sulitnya mencari album penyimpanan, serta esensi hobi numismatik.

– Agnes Valentina: Mantan pramugari Sempati Air Lines yang menjadi salah satu peserta lelang sukarela dengan mengajukan 167 buah uang kertas dan logam Indonesia terbitan tahun 1930–1977 miliknya.

– Hasbullah: Kepala Lelang dari Kantor Lelang Negara (KLN) Jakarta. Beliau memberikan penjelasan otoritatif mengenai mekanisme teknis pendaftaran lelang sukarela, penentuan uang jaminan, serta regulasi pemerintah terkait izin badan lelang swasta.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.