Keterangan
“Ternyata saya tidak gampang dikibuli begitu saja. Buktinya saya tetap membayar seribu dua ratus lima puluh rupiah, meskipun saya sudah dibawa berputar-putar sampai ke Monas, bahkan diancam dengan pisau. Saya tersenyum sendiri waktu mengenangkan semua itu…”
Cerita berjudul “Argo Meter” karya Jim Bary Aditya mengisahkan pengalaman menegangkan seorang penumpang taksi di Jakarta. Ketegangan bermula ketika sang sopir bertingkah mencurigakan dengan membawa mobil berputar-putar tak tentu arah, dari Monas hingga kawasan Senen, sembari memperlihatkan sebilah belati kecil kebiruan yang dibungkus sapu tangan merah. Penumpang yang merasa terancam dan menduga akan dirampok, mencoba tetap tenang dan mengarahkan rute perjalanannya sendiri demi keselamatan.
Situasi mencair ketika sopir taksi tersebut mematikan argo meternya dan mulai mengutarakan isi hatinya. Ia mengaku bernama palsu Philip dan bercerita bahwa dirinya sebenarnya adalah orang baik-baik yang sedang tertimpa kemalangan. Ia dikhianati oleh temannya sendiri yang membawa kabur taksi pinjamannya hingga ia dipecat dan dimarahi habis-habisan oleh perusahaan.
Motif keputusasaannya semakin mendalam saat ia mengisahkan nasib malang anaknya, Rini, yang menjadi korban tabrak lari hingga menderita cacat telinga parah, sementara ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membiayai pengobatan rumah sakit. Cerita Philip yang emosional dan penuh penderitaan ini berhasil meluluhkan kecurigaan sang penumpang, yang akhirnya berempati dan dengan sukarela membayar ongkos taksi sebesar seribu dua ratus lima puluh rupiah sesuai kesepakatan awal mereka di depan Proyek Senen.
Namun, alur cerita berbalik secara mengejutkan beberapa hari kemudian. Melalui sebuah berita pendek di koran, sang penumpang menemukan informasi mengenai penemuan sesosok mayat sopir taksi dengan kondisi luka-luka dan sebelah kupingnya hilang. Di samping jenazah tersebut ditemukan sebuah belati dan sehelai sapu tangan merah di dalam taksi bernomor polisi B 1010 WM.
Fakta tragis ini menyadarkan sang penumpang bahwa drama penderitaan yang diceritakan oleh Philip tempo hari hanyalah sebuah kepandaian bersandiwara untuk menutupi kedoknya yang keji. Sopir taksi tersebut ternyata adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang sengaja mengarang cerita guna mengelabui korbannya sebelum mengeksekusi aksi kriminal.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





