Cerita Wayang D. Djajakusuma: Mabuk Kepayang, Mabuk Sayang (Seri Mandudari-Mandudaki (III)

Penulis: D. Djajakusuma
Ilustrator: Danarto
Media: ZAMAN
Tahun: 1983, 7 Mei, No.32/IV
Halaman: 44-45
Ukuran: 23 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Kategori: Label , ,

Keterangan

“Kekuasaan di tangan, kerajaan di kaki, tapi perempuan itu tidak ada di pangkuan. Bertahun-tahun beta bertapa beta dapatkan segala dicita… kenapa beta tidak minta wanita yang paling cantik, paling ayu, yang paling molek, mata sayu?” 

Kisah ini diawali dengan keprihatinan Rawana saat menyaksikan dampak buruk dari peperangan antara dua negeri makmur dari atas angkasa dalam perjalanannya menuju Inderaloka. Korban jiwa berjatuhan, kemiskinan merajalela, dan penyakit menjangkiti rakyat di kedua belah pihak. Tergerak oleh situasi tersebut, Rawana mengirimkan surat berisi ultimatum agar peperangan segera dihentikan dalam waktu sepuluh hari. Jika tidak dipatuhi, Rawana mengancam akan menjajah dan menduduki kedua negeri tersebut. 

Melalui perantaraan Raja Syaksa dan Balikasa, perdamaian akhirnya tercapai tanpa pertumpahan darah lebih lanjut. Rawana pun dielu-elukan sebagai penyelamat dunia dan secara sukarela diangkat menjadi penjaga keamanan tanpa meminta upeti apa pun.

Setelah berhasil memulihkan perdamaian, Rawana rutin berkeliling memeriksa empat wilayah kekuasaannya, yaitu Pratala, daratan, lautan, dan udara. Meskipun tujuannya baik untuk mendeteksi benih perang, campur tangan Rawana tanpa uluk salam memicu cemberut dan ketakutan tersembunyi di hati penguasa setempat. 

Suatu ketika, Rawana mendengar kabar mengenai kemakmuran negeri Madupura di seberang Laut Tanpariksa yang dipimpin oleh Dasarata Maharaja, seorang raja arta dan bijaksana keturunan Nabi Adam alaihisalam. Terpikat oleh reputasi tersebut, Rawana terbang ke Madupura.

Sesampainya di taman keputrian istana Madupura, Rawana terbelalak menyaksikan kecantikan luar biasa permaisuri Dasarata yang wangi dan bagaikan bidadari. Begitu terpesonanya hingga ia mabuk kepayang dan jatuh pingsan ke tebing jurang. Sekembalinya ke istananya, Rawana mengurung diri dan menyesali mengapa ia tidak meminta wanita secantik itu saat menerima anugerah dahulu. Dipicu oleh nafsu, ia bertekad merebut permaisuri itu walaupun menempuh jalan yang terlarang.

Keesokan harinya, Rawana mendatangi Dasarata secara langsung. Dasarata menyambutnya dengan ramah, bahkan bersedia menyerahkan Permaisuri Mandudari apabila sang istri berkenan. Setelah Dasarata berbicara dengan permaisuri di dalam istana, sang permaisuri ternyata bersedia dengan suka cita demi mendukung suaminya. Rawana pun membawa wanita tersebut terbang dengan pesawatnya. 

Namun kisah ini ditutup dengan kebingungan Dasarata, karena ia mendapati Mandudari yang asli ternyata masih berada di sampingnya tepat setelah kepergian Rawana.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.