Keterangan
Akan tetapi, mengapa dalam proses politik ada kecenderungan lain? Pencarian intelektual agama tentang pentingnya berdialog itu dan santernya suara kerukunan yang diorganisasi pemerintah ternyata kalah kuat dengan proses sosial dan politik sehari-hari, yang sesungguhnya tidak konsisten. Struktur sosial yang arusnya timpang, sangat lazim merupakan potensi konflik, dan artikulasinya sering menggunakan pembenaran lewat berbagai ungkapan sentimen kelompok agama atau mengekspose stereotip sosial.
Karena itu, kegitan seperti dialog antaragama tentu harus dikembalikan sebagai proyek umatnya sendiri sehingga menjadi bagian tradisi dan pranata perdamaian (culture instruments of peace), yang mampu mempertautkan anggota masyarakat dalam hidup susah maupun gembira.
—-
Kliping ini memuat esai karya Moeslim Abdurrahman yang mengkritisi formalisasi dialog kerukunan beragama sponsor pemerintah. Dialog semacam itu sering kali tidak berdaya menghadapi gejolak sosial-politik di tingkat tapak.
Kliping ini menyoroti bagaimana perbedaan struktural dan depolitisasi massa sering kali dimanipulasi menjadi sentimen antaragama. Kasus perusakan tempat ibadah di Situbondo menjadi contoh nyata pudarnya peran kontrol kiai dan tokoh agama.
Kliping ini menekankan pentingnya membangun kubu swasta antaragama yang independen dari kepentingan politik praktis maupun elite. Agama harus dikembalikan sebagai sarana penjinak konflik serta instrumen perdamaian sosial berbasis umat.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





