Esai Munawar Ahmad Anees: Islam dan Fundamentalisme Sains

Rp 5.000,00

Penulis: Munawar Ahmad Anees
Media: UMMAT
Tahun: 1995, 27 November, No.11 Th.I
Halaman: 76-77
Ukuran: 4,4 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9566 Kategori: Label , ,

Keterangan

 

“Sains Barat secara terang-terangan menyatakan bahwa ilmu bermula dari keraguan. Namun tirani metode sains juga memaksa untuk meragukan iman. Sebaliknya, dalam Islam, iman merupakan awal mula pencarian ilmu.” 

Kliping ini menyoroti krisis keilmuan berskala besar yang tengah dihadapi peradaban Muslim, di mana reputasi historisnya sebagai “Peradaban Buku” kini mengalami kemunduran intelektual di bawah dominasi Barat. 

Padahal secara historis, iman berkontribusi sebagai inti peradaban Muslim melalui sintesis besar sejak wahyu pertama (Iqra’) dan ratusan ayat Alquran yang menjadi penggerak keilmuan. Warisan sains dan kebudayaan Islam di Andalusia bahkan meninggalkan jejak abadi yang memicu mesin Renesans Eropa dan memengaruhi teologi skolastik Kristen lewat pemikiran tokoh seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.

Berbeda dengan peradaban Barat yang memisahkan sains dan agama akibat tirani metode sains pasca-Pencerahan Eropa, Islam menempatkan aspek spiritual dan temporal sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dalam jantung epistemologi tauhid. Barat memulai sains dari keraguan dan sekularisme, sedangkan Islam memosisikan iman sebagai awal mula pencarian ilmu tanpa adanya pertentangan mendasar di antara keduanya.

Saat ini, dunia Muslim berada dalam masa kegelapan sebagai penerima dominasi Barat yang diperparah oleh trauma kolonialisme serta krisis politik-intelektual internal. Kebingungan ini tecermin dalam dua tingkatan respon. Pertama, adanya dorongan dari ilmuwan sekular Muslim (seperti Abdus Salam) untuk mengejar ketertinggalan sains Barat, namun terjebak dalam pandangan bahwa sains bersifat bebas nilai dan reduksionis. 

Kedua, munculnya kelompok Muslim yang memosisikan Alquran secara normatif sebagai buku teks sains instan. Di sisi lain, upaya gerakan “islamisasi ilmu” juga menghadapi tantangan konseptual jika hanya terjebak pada labelisasi tanpa membongkar bias sekularisme Barat.

Pada esensinya, kliping ini menegaskan bahwa tantangan utama masyarakat pasca-dominasi sains adalah penegasan kembali jatidiri spiritual. Di tengah relativisme dan pluralitas budaya yang dibawa oleh postmodernisme, rekonstruksi epistemologi Islam secara mandiri—yang menyatukan kandungan kognitif iman dengan metode keilmuan tanpa batas metafisika Islam—menjadi kebutuhan yang amat mendesak bagi umat Muslim.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.