Film “Kartini” Karya Syuman Djaya: Kartini, Kok, Tidak Muncul

Rp 5.000,00

Penulis: Danarto
Media: ZAMAN
Tahun: 1983, 7 Mei, No.32/IV
Halaman: 32-33
Ukuran: 23,7 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9554 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Sebagai tokoh yang sebagian terbesar kekuatannya terletak pada surat-surat pribadinya, bahasa apa yang bisa kuat muncul di layar? Barangkali rasa puisi sebuah gambar. Hingga sejarah Kartini adalah kekuatan ‘bahasa gambar’.”

Kliping dari majalah Zaman edisi 7 Mei 1983 yang berjudul “Kartini Kok Tidak Muncul” menyajikan sebuah ulasan kritis terhadap film Raden Ajeng Kartini garapan sutradara Syuman Djaya. 

Ulasan dalam kliping ini secara gamblang menilai bahwa visualisasi biografi tokoh pahlawan nasional perempuan tersebut terasa sangat dibuat-buat, terlalu diromantisasi, serta didramatisasi secara berlebihan. Akibatnya, esensi kekuatan karakter dan gejolak pemikiran Kartini yang sesungguhnya gagal bersinar di layar lebar. Sutradara dianggap mengalami kesulitan besar dalam mengonversi kekuatan tulisan dan gugatan sosial yang ada pada surat-surat pribadi Kartini ke dalam bentuk visual atau “bahasa gambar” yang meyakinkan.

Salah satu kelemahan fatal yang disoroti dalam kliping ini adalah ketidakluwesan interaksi budaya serta aspek bahasa para aktor. 

Penggunaan bahasa Jawa oleh Yenny Rachman yang memerankan tokoh utama dinilai sama sekali tidak luwes dan justru membuyarkan kedalaman adegan. Padahal, penokohan seorang perempuan ningrat Jawa yang terdidik seharusnya memancarkan keluwesan tata cara dan penguasaan tiga tingkatan bahasa Jawa secara natural tanpa perlu dipaksakan. Kelemahan ini diperparah oleh ketidaksiapan para pemain dalam menyampaikan dialog-dialog yang sarat akan bobot pemikiran berat, seperti diskusi pandangan hidup antara Kartini dengan kakaknya, Sosrokartono, maupun saat ia mengutarakan kemauannya kepada sang ayah.

Di sisi lain, kliping ini mencatat adanya beberapa visualisasi teatrikal menarik yang berusaha mengadaptasi isi surat Kartini secara harfiah. Contohnya adalah visualisasi adegan mengharukan mengenai anak kecil penjual rumput berusia enam tahun yang diangkat dari surat Kartini kepada Ny. Abendanon tertanggal 8 April 1902. 

Selain itu, terdapat adegan makan malam terakhir di mana Kartini meminta agar kursi ibu kandungnya, R.A. Ngasirah yang berstatus garwa ampil, disejajarkan dengan kursi keluarga inti demi menuntut pengakuan kesetaraan derajat. Adegan ini secara artistik digambarkan meniru komposisi visual lukisan Perjamuan Terakhir karya Da Vinci. 

Namun, secara keseluruhan, film berdurasi kurang lebih 2,5 jam ini dinilai lamban, menjemukan, dan kehilangan ritme yang utuh, sehingga terasa seperti potongan-potongan adegan terpisah yang gagal memunculkan aura sejati dari sosok Kartini.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.