Kunjungan Presiden Soeharto ke Beijing: Lawatan Sarat Dialog

Rp 7.000,00

Penulis: Achmad Zhani Rifai
Media: EDITOR
Tahun: 1990, 24 November
Halaman: 26-7
Ukuran: 1,35 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9467 Kategori: Label , , , ,

Keterangan

“Yang lalu biarlah berlalu. Kini kita hadapi masa depan.” – Presiden Yang Shangkun

“Indonesia — kendati tidak membenarkan berkembangnya komunis, dan PKI telah dibubarkan — akan tetap membuka dan mengembangkan hubungan persahabatan dengan setiap negara, atas dasar saling pengertian dan kerja sama.” – Presiden Soeharto

Kliping ini mengulas kunjungan bersejarah Presiden Soeharto ke Beijing, Cina, yang menandai era baru normalisasi hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Cina (RRC) setelah ketegangan selama hampir 30 tahun. Fokus utama kunjungan ini adalah membangun rasa saling percaya dan kerja sama yang berlandaskan pada Prinsip Koksistensi Damai serta Dasasila Bandung.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Yang Shangkun dan Sekjen Partai Komunis Cina (PKC), Jiang Zemin, memberikan jaminan bahwa RRC tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia, termasuk tidak akan mendukung gerakan komunis di Indonesia. Sebaliknya, Presiden Soeharto menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak membenarkan perkembangan komunisme, Indonesia tetap membuka diri untuk bersahabat dengan negara mana pun atas dasar saling menghormati kedaulatan masing-masing.

Selain dimensi bilateral, kunjungan ini memiliki nilai strategis dalam penyelesaian konflik Kamboja. Cina, sebagai kekuatan besar yang berpengaruh terhadap Norodom Sihanouk, dianggap memegang kunci penting dalam rekonsiliasi tersebut. Sinyal positif muncul ketika Sihanouk menyatakan kesediaannya menjadi ketua Dewan Nasional Tertinggi (SNC) dalam pertemuannya dengan Soeharto di Beijing.

Secara geopolitik, normalisasi ini dipandang sebagai langkah cerdas Indonesia untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan Asia-Pasifik di antara pengaruh Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Jepang. Bagi Cina, hubungan baik dengan Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN sangat penting untuk menciptakan lingkungan regional yang stabil, sehingga mereka dapat fokus pada pembangunan ekonomi domestik pasca-Tragedi Tiananmen. Kunjungan ini pun dinilai sukses mencairkan kekakuan diplomatik dan membuka ruang dialog yang lebih luas bagi masa depan kedua negara.

NARASUMBER

Yang Shangkun: Presiden RRC.

Soeharto: Presiden Republik Indonesia.

Li Peng: Perdana Menteri RRC.

Jiang Zemin: Sekjen Partai Komunis Cina (PKC).

Moerdiono: Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI.

Natalia Soebagjo, M.A.: Sinolog dari Universitas Indonesia.

Mochtar Kusumaatmadja: Mantan Menteri Luar Negeri RI.

Norodom Sihanouk: Tokoh sentral Kamboja.

Dr. H. Roeslan Abdulgani: Tokoh politik/diplomat senior (dikutip dari tulisannya di harian Merdeka)

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.