Keterangan
“Akibat guncangan krisis moneter ini, bidang keuangan kami telah tertampar. Untuk itu di masa depan, saya harus belajar banyak soal bidang keuangan. Supaya tidak lagi salah jalan dan salah perhitungan.”
“Pokoknya tidak boleh ada yang ngotak-ngatik pabrik di sektor agrobisnis karena sektor ini telah menghidupkan puluhan ribu karyawan kami.”
Kliping ini mengulas sosok Harry Lukmito, pemimpin Grup Sekar, yang harus menavigasi imperium bisnis agrobisnisnya di tengah hantaman krisis moneter 1997-1998.
Di tengah isu kebangkrutan dan jeratan utang dolar, Harry menunjukkan ketenangan dan transparansi dalam menjelaskan kondisi riil perusahaan yang membawahi sekitar 18.000 karyawan tersebut.Harry Lukmito memiliki latar belakang yang kuat dalam manajemen operasional.
Meski lahir di keluarga pengusaha, ia memulai kariernya dari level terbawah—mencari bahan baku udang hingga ke pelosok desa dan pelelangan ikan. Kedisiplinan ini dibentuk oleh kakak tertuanya, Harry Susilo, pendiri Grup Sekar. Pengalaman lapangan ini memberikan pemahaman mendalam mengenai rantai pasok agrobisnis, yang kemudian menjadi tulang punggung kekuatan grup saat krisis melanda.
Fokus utama Harry saat itu adalah melakukan restrukturisasi utang. Meski sempat beredar rumor utang sebesar US$150 juta, ia mengklarifikasi bahwa total utang grup sebenarnya adalah US$41 juta, dengan status kredit yang masih dikategorikan lancar.
Grup Sekar membentuk tim restrukturisasi internal yang dibantu konsultan independen untuk mengubah utang jangka pendek menjadi obligasi jangka panjang. Harry mengakui bahwa krisis ini menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih mendalami bidang keuangan agar tidak terjadi salah perhitungan di masa depan.Kekuatan utama Grup Sekar terletak pada orientasi ekspor.
Perusahaan seperti PT Sekar Bumi dan PT Sekar Laut memproduksi komoditas yang sangat diminati pasar internasional, seperti udang beku, paha kodok, kacang mete, dan kerupuk (label Finna). Karena pendapatan mereka dalam bentuk dolar AS sementara biaya operasional sebagian besar dalam rupiah, perusahaan justru mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan di tengah krisis.
PT Sekar Bumi, misalnya, mencatat kenaikan laba 11,6%, sementara PT Sekar Laut melonjak hingga 18,4% pada tahun 1997.
Keberhasilan ini tidak lepas dari prinsip profesionalisme keluarga. Meskipun melibatkan tujuh bersaudara laki-laki, mereka sepakat untuk tidak melibatkan para istri dalam manajemen dan tetap memegang prinsip the right man in the right place.
Bagi Harry, menjaga kelangsungan pabrik bukan sekadar soal bisnis, melainkan tanggung jawab sosial untuk melindungi penghidupan puluhan ribu karyawannya.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





