Keterangan
Puisi bertajuk “Menanti Fadjar” karya Ismuhadi ini merupakan refleksi mendalam tentang pergulatan batin manusia di tengah kesunyian malam. Ditulis di Surabaya pada 1951, narator menggambarkan perasaan terisolasi dan kepedihan yang mendalam, namun menolak untuk menyerah.
Melalui metafora sebuah “dian” (lampu minyak), penyair membenturkan dua sudut pandang: pesimisme yang melihat lampu setengah kosong dan optimisme yang melihatnya setengah penuh. Kesombongan justru menjadi sumber tenaga untuk bertahan agar cahaya tersebut tidak padam oleh “kekeringan napas.” Pada akhirnya, puisi ini membawa pesan tentang keteguhan iman dan eksistensialisme; sebuah tekad untuk terus menyala meski diliputi ketidakpastian, hingga fajar benar-benar datang.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





