Keterangan
Kliping berjudul “Nada Datar Jenderal Soedirman” yang dimuat dalam Majalah TIRAS (26 Oktober 1995) ini merupakan sebuah ulasan kritis terhadap sinetron Panglima Besar Jenderal Soedirman (PBJS) yang tayang di Indosiar. Artikel ini menyoroti bagaimana beban sejarah yang besar sering kali menjadi penghambat kreativitas bagi para sineas dalam menggarap biografi tokoh nasional.
Sinetron PBJS yang disutradarai oleh Nurhadi Irawan dkk. dinilai terjebak dalam alur yang terlalu “lurus”, berhati-hati, dan kurang improvisasi, sehingga menghasilkan narasi yang terasa “datar”.
Secara kronologis, sinetron ini merunut perjalanan hidup Soedirman mulai tahun 1936 di Cilacap sebagai aktivis Muhammadiyah, perannya dalam mendirikan Badan Pengurus Makanan Rakyat, kiprahnya di Peta (Pembela Tanah Air) sebagai daidancho, hingga puncaknya saat ia dikukuhkan menjadi Panglima Besar pada 18 Desember 1945. Meskipun secara visual penampilan Ganang Priambodo (cucu kandung Soedirman yang memerankan tokoh utama) dianggap sangat pas, namun ia dinilai kurang mampu menghidupkan karakter Soedirman yang lebih dinamis atau “flamboyan” karena keterbatasan referensi akting.
Kritik utama kliping ini tertuju pada minimnya keberanian kreatif dalam menginterpretasikan fakta sejarah. Adanya pengawasan ketat dari Pusat Sejarah ABRI dalam memberikan koreksi terhadap fakta yang disajikan membuat ruang gerak penulis skenario, Imam Tantowi dan Arman Tono, menjadi terbatas. Hal ini menyebabkan sinetron tersebut kehilangan greget sebagai drama sejarah. Tanpa adanya upaya penggunaan teknik bercerita seperti flashback atau eksplorasi sisi manusiawi sang jenderal secara mendalam, karya ini akhirnya sekadar menjadi dokumentasi visual yang kaku.
Penulis menekankan bahwa meski nasionalisme adalah hal mutlak, sebuah karya seni tetap membutuhkan keleluasaan interpretasi agar tidak sekadar menjadi narasi yang kering.
NARASUMBER
Ganang Priambodo: Pemeran utama sekaligus cucu kandung Jenderal Soedirman. Ia memberikan pernyataan (pengakuan) mengenai keterbatasannya dalam memiliki referensi terhadap tokoh yang ia mainkan.
Tjokropranolo (Pak Panji): Mantan ajudan Pak Dirman sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta. Ia disebutkan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap salah satu adegan dalam produksi tersebut (adegan rakyat yang menyembah Jenderal Soedirman).
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

