Romo Sandyawan Sumardi: Untuk Mereka yang Terpinggirkan

Rp 8.000,00

Penulis: Rachmat H. Cahyono
Media: D & R
Tahun: 1996, 7 Desember, No.17, Thn.28
Halaman: 32-33
Ukuran: 3,9 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 15

SKU: KL_9510 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Menurut saya, kita tak bisa memahami dan menghayati kehidupan rakyat kecil tanpa berbaur langsung.”

“Konsekuensi hukum itu saya kalahkan dengan sikap moral. Sikap melindungi itu adalah sikap yang benar.”

Kliping ini mengulas sosok Romo Sandyawan Sumardi, penerima Anugerah Yap Thiam Hien tahun 1996, yang mendedikasikan hidupnya bagi kaum terpinggirkan. Perhatian Romo Sandy terhadap rakyat kecil bukanlah hal baru; ia dikenal sering menyamar (inkognito) sebagai buruh perkebunan tebu di Kendal hingga buruh bangunan di Jakarta untuk merasakan langsung penderitaan rakyat. Baginya, pemahaman sejati terhadap wong cilik hanya bisa diraih melalui keterlibatan langsung, sebuah prinsip yang ia pegang teguh sejak masa pendidikan teologinya di Yogyakarta saat mendampingi keluarga gelandangan di Malioboro dan masyarakat Kedungombo.

Melalui Institut Sosial Jakarta (ISJ), Romo Sandy membangun sistem dukungan bagi kaum miskin kota, mulai dari pemulung hingga anak jalanan. Ia menciptakan selter yang berfungsi sebagai “miniatur keluarga,” memberikan pendidikan dasar, serta ruang bagi anak-anak jalanan untuk tetap menjadi manusia di tengah kerasnya ibu kota. Fokus utamanya adalah mengubah kelompok yang dianggap “sampah masyarakat” menjadi subjek yang berdaya secara ekonomi dan sosial.

Nama Romo Sandy semakin mencuat pasca-Peristiwa 27 Juli 1996. Atas dasar kemanusiaan, ia memberikan perlindungan kepada aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), termasuk Budiman Sudjatmiko, yang saat itu menjadi buronan politik. Tindakan ini membuatnya berhadapan langsung dengan aparat keamanan dan ancaman hukum serius. Ia dituduh melanggar pasal-pasal subversif karena menyembunyikan pelaku kejahatan. Namun, Romo Sandy tetap bergeming pada prinsip moralnya bahwa melindungi mereka yang teraniaya adalah kewajiban iman, meskipun harus menanggung konsekuensi hukum yang berat.

Keputusan dewan juri memberikan penghargaan Yap Thiam Hien kepadanya merupakan bentuk pengakuan atas keberaniannya membela hak asasi manusia tanpa memandang latar belakang politik. Romo Sandyawan membuktikan bahwa perjuangan hak asasi bukan sekadar wacana di seminar, melainkan tindakan nyata di lapangan—bahkan jika itu berarti harus mempertaruhkan keselamatan diri demi mereka yang tidak memiliki suara.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.