Darmono S. Hubojo: Jalan Perkembangan Sandiwara di Indonesia

Rp 8.000,00

Penulis: Darmono S. Hubojo
Media: INDONESIA
Tahun: 1951, Maret, No.3, Thn.II
Halaman: 1-8
Ukuran: 4,5 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 17

SKU: KL_9521 Kategori: Label ,

Keterangan

“Memang kebudajaan lama bukan suatu beban jang kelebihan. Dengan menggunakan tehnik modern dan disesuaikan dengan djaman mungkin ia akan menambah semarak seni-seni dan perkembangan kebudajaan di Indonesia.”

“Kegagalan sikap pendjadjah jang busuk untuk berusaha menekan perkembangan merdeka dari djiwa manusia djadjahan gar dapat disiarkan kesaluran jang tertentu, berkali-kali kita lihat di Indonesia.”

Kliping bertajuk “Djalan Perkembangan Sandiwara di Indonesia” karya Darmono S. Hubojo (1950) ini mengulas evolusi seni pertunjukan di Indonesia, dimulai dari akar etimologis hingga transformasinya menjadi industri film modern. Darmono S. Hubojo menjelaskan bahwa istilah “sandiwara” berasal dari bahasa Jawa (sandi berarti tersembunyi, dan wara berarti kabar/ajaran). Istilah ini dipopulerkan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII dari Solo sebagai media pendidikan budi pekerti yang halus.

Pada era sebelum Perang Dunia II, Solo menjadi pusat pertumbuhan kebudayaan Jawa modern yang sangat subur. Berkat otonomi dan dukungan materiil dari pihak kraton (Mangkunegaran), seni pertunjukan berkembang pesat di kalangan intelek maupun rakyat jelata. Pengaruh ini kemudian meluas menjadi fondasi kebudayaan nasional Indonesia. Penulis mencatat bahwa pemerintah Hindia Belanda cenderung membatasi pertumbuhan nasionalisme, namun memberikan ruang bagi perkembangan budaya daerah, yang justru dimanfaatkan oleh kaum muda untuk membangun identitas bangsa.

Evolusi panggung sandiwara bermula dari pemujaan dewa (tarian ritual), lalu bergeser ke cerita epik Hindu (Mahabharata dan Ramayana), hingga munculnya ketoprak dan lakon perjuangan seperti Wajang Suluh. Di Jakarta, pengaruh Barat dan Melayu melahirkan “Kemidi Bangsawan” atau “Kemidi Setambul” yang mengadopsi cerita 1001 Malam. Pada tahap ini, sandiwara mulai menjadi hiburan umum (komersial) dengan keterlibatan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang etnis.

Memasuki era 1950-an, fokus industri kreatif bergeser dari panggung ke layar perak (film). Tokoh-tokoh seperti Usmar Ismail, Armijn Pane, dan Kotot Sukardi mulai memproduksi film bertema perjuangan, seperti Enam Djam di Djokja. Penulis menekankan bahwa keahlian dalam seni tradisional (seperti tari daerah) bukanlah beban bagi aktor modern, melainkan keistimewaan yang memberikan corak asli Indonesia dan membedakannya dari sekadar imitasi budaya asing. Artikel ditutup dengan keyakinan bahwa perpaduan teknik modern dan jiwa kebudayaan lama akan memperkaya identitas nasional.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.