Keterangan
“Dari setiap buah seni kami mengharapkan — bahkan boleh dikatakan: menuntut — bahwa ia adalah pendjelmaan sesuatu jang dialami sendiri oleh debaran hati jang hidup.”
“Wim Schippers adalah djantung jang berdetak dalam exposisi ini, paling dekat pada tanggapan kalbu jang tidak terkekang oleh teori.”
Resensi seni rupa “Penolakan dan Penghargaan” karya Trisno Sumardjo yang dimuat dalam majalah Indonesia No. 3 Th. II (Maret 1951) ini mengulas pameran empat pelukis Belanda yang bermukim di Indonesia—Rudolf Bonnet, Willem Jilts Pol, Ries Mulder, dan Wim Schippers—yang diselenggarakan oleh Yayasan Kerjasama Kebudayaan di Jakarta pada Februari 1951. Sumardjo memberikan kritik tajam yang membedakan antara karya yang sekadar mengandalkan teknik intelektual dengan karya yang mampu menggetarkan emosi.
Kritik utama Sumardjo ditujukan pada dominasi “otak” atau intelektualisme yang terlalu diperhitungkan sehingga mematikan kejujuran perasaan. Ia menilai Rudolf Bonnet lebih pantas disebut sebagai pembuat “gambar” daripada “lukisan”, karena karyanya dianggap kurang jujur dalam mengutarakan perasaan melalui garis dan warna. Sementara itu, W.J. Pol dinilai lebih baik dengan gaya impresionisme yang dekoratif, terutama pada karya potret dirinya yang dianggap lebih bebas dan berkarakter.
Ries Mulder menjadi sorotan karena pengaruh kuat kubisme dari Picasso dan Braque. Sumardjo memuji kemampuannya dalam menyusun komposisi dan warna pada karya still life, namun ia mengkritik lukisan sosok manusia Mulder, seperti Perempuan Depan Jendela, yang dianggap terlalu matematis dan kaku sehingga gagal memenuhi fungsi emosionalnya.
Puncak apresiasi Sumardjo diberikan kepada Wim Schippers. Meskipun secara teknis Schippers dianggap kurang teliti dibandingkan rekan-rekannya, karyanya dinilai memiliki “denyut jantung”. Schippers mewakili kontras tajam terhadap Mulder karena karyanya bersifat liris, romantis, dan ekspresif tanpa terkekang oleh teori-teori formal. Bagi Sumardjo, karya Schippers seperti Rendez-vous adalah bagian paling jujur dari pameran tersebut karena muncul dari kedalaman kalbu, bukan sekadar kalkulasi intelektual.
Sebagai penutup, Sumardjo menekankan bahwa kejujuran dan kehidupan nyata adalah elemen krusial dalam seni. Ia menyimpulkan bahwa pameran ini, meski menarik untuk diketahui, mungkin tidak memberikan kontribusi nilai yang signifikan bagi perkembangan pelukis muda Indonesia yang sedang mencari jati diri dan orisinalitas.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





