Cerita Pendek Badaruzzaman: Togog

Rp 20.000,00

Penulis: Badaruzzaman
Media: INDONESIA
Tahun: 1951, Maret, No.3, Thn.II
Halaman: 23-39
Ukuran: 8,52 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

 

Stok 18

SKU: KL_9519 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Togog itu simbol manusia burokrat, atau sindiran bagi orang jang suka bermalas-malas duduk dikursi berdjang-djang lamanja dengan tiada ada pekerdjaan jang dihadapanja… Itulah Togog! Manusia patung!”

“Hina! seperti pengemis! Sudah tahu dirinja tidak seberapa berguna bagi djawatan itu… hanja karena mau makan gadji buta, seperti lintah menempel dibetis orang.”

Cerita pendek berjudul “Togog” karya Badaruzzaman (nama pena dari Muhammad Dimyati) yang diterbitkan pada 1951 ini membedah kegelisahan eksistensial seorang kakitangan kerajaan bernama Hartono yang bekerja di sebuah jabatan rasmi di Solo. Hartono merasa dirinya terperangkap dalam sistem birokrasi yang tidak cekap dan menjemukan. Setiap hari, dia datang ke pejabat hanya untuk menjalankan rutin yang dianggapnya mekanikal, tanpa ada pekerjaan nyata yang memberikan erti atau manfaat bagi masyarakat.

Hartono menyedari bahawa jawatan yang disandangnya hanyalah hasil “sistem kawan” atau nepotisme, di mana bapa saudaranya yang berpengaruh mendesak Ketua Jabatan untuk menerimanya bekerja. Di pejabat, dia menyaksikan fenomena “pengangguran terselubung”: kakitangan yang berlebihan, pekerjaan yang sengaja dilambat-lambatkan agar kelihatan sibuk, serta tumpukan kertas arkib yang tidak berguna. Dia menyifatkan dirinya dan rakan setugasnya sebagai “Togog”—merujuk kepada watak wayang yang hanya diam mematung, atau dalam konteks ini, manusia birokrat yang makan gaji buta, statik, dan tidak efisien.

Ketegangan mencapai puncaknya apabila Hartono pulang ke rumah. Isterinya, Minah, melayaninya dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat, menyangka suaminya telah bekerja keras demi keluarga. Namun, kejujuran Hartono yang meluap-luap membuatkan dia mengakui bahawa dia merasa hina seperti pengemis atau lintah yang menghisap wang negara tanpa memberi sumbangan. Minah, yang berpikiran pragmatis, cuba memujuk Hartono agar tetap bertahan demi kestabilan kewangan dan status sosial, namun bagi Hartono, moraliti dan harga dirinya jauh lebih penting daripada gaji bulanan yang “mati” dalam kelesuan birokrasi. Cerita ini merupakan kritik tajam terhadap mentaliti birokrasi pasca-revolusi Indonesia yang dianggap hanya membuang-buang masa dan anggaran negara.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.