Ekspor Indonesia-Argentina: Potong Kompas ke Pasar Asing

Rp 5.000,00

Penulis: Idrus F. Shahab
Media: TIRAS
Tahun: 1996, No. 32, 5 September 1996
Halaman: 23
Ukuran: 7,8 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 16

SKU: KL_9525 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Kita mengetahui ekonomi biaya tinggi ini disebabkan kurang baiknya prasarana jalan, pelabuhan, serta masih adanya gerogotan pungutan yang mestinya sudah tidak ada. Kalau ini bisa dihilangkan, ekspor nasional niscaya lebih kompetitif.” Prof. Dr. Soebroto

Artikel berjudul “Potong Kompas ke Pasar Asing” menyoroti rapor merah kinerja perdagangan luar negeri Indonesia yang mengalami ketertinggalan signifikan di kawasan ASEAN. Kunjungan Presiden Argentina, Carlos Menem, ke Jakarta secara tidak langsung membuka kelemahan struktural perdagangan Indonesia, di mana selama dua tahun berturut-turut neraca perdagangan bilateral berakhir defisit bagi Indonesia. Pada tahun 1994, Indonesia menderita defisit sebesar US$ 65,5 juta, dan angka ini melonjak tajam pada periode Januari-September 1995 hingga mencapai US$ 159,5 juta.

Kondisi ini sejalan dengan peringatan Presiden Soeharto pada Sidang Paripurna DPR/MPR 16 Agustus 1996 mengenai pembengkakan defisit transaksi berjalan yang melonjak dari US$ 3,5 miliar menjadi US$ 6,9 miliar dalam satu tahun selama Repelita VI. Meskipun pemerintah telah gencar meluncurkan berbagai paket deregulasi hingga menghidupkan kembali insentif fiskal seperti tax holiday, strategi “potong kompas” untuk memacu investasi modal asing dan menggenjot ekspor non-migas terbukti belum membuahkan hasil optimal di lapangan. Data indeks pertumbuhan ekspor periode 1994-1995 menempatkan Indonesia sebagai juru kunci di ASEAN dengan pertumbuhan hanya 15%, kalah jauh dibandingkan Filipina (29%), Malaysia (27%), dan Thailand (25%).

Kegagalan akselerasi ekspor ini dipicu oleh atmosfer industri nasional yang kurang kondusif akibat keraguan pemerintah dalam memberikan insentif masif serta tingginya beban “ekonomi biaya tinggi”. Selain itu, terdapat kesalahan fatal dalam penentuan skala prioritas produk andalan ekspor (salah pilih produk). Pemerintah dinilai terlalu mengunggulkan industri kimia yang justru berujung pada defisit US$ 4 miliar, sementara sektor potensial yang padat karya seperti industri sepatu kurang mendapatkan perhatian memadai, padahal ongkos ekonomi biaya tinggi di kalangan produsen sepatu telah memangkas hingga 30% dari harga penjualan mereka.

NARASUMBER

Presiden Soeharto – Dirujuk mengenai isi pidato peringatannya pada Sidang Paripurna DPR/MPR 16 Agustus 1996 terkait lonjakan defisit transaksi berjalan Indonesia.

Faisal Basri – Ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan FE UI; dikutip pandangannya yang menyayangkan keragu-raguan pemerintah dalam memberikan insentif fiskal kepada pengusaha lokal jika dibandingkan dengan kebijakan Malaysia.

Prof. Dr. Soebroto – Mantan Sekjen OPEC; dikutip pernyataannya yang menyatakan keprihatinan terhadap “Faktor X” di luar hukum berupa infrastruktur (jalan dan pelabuhan) yang buruk serta maraknya pungutan liar yang memicu tingginya beban ekonomi biaya tinggi.

Anton Supit – Ketua Persepakatan Indonesia (Apresindo); dikutip pernyataannya mengenai kekeliruan pemerintah dalam menetapkan skala prioritas produk ekspor (“salah pilih” produk), yang mengabaikan industri alas kaki/sepatu dan justru memprioritaskan industri kimia yang berujung defisit besar.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.