Ada Mbak Tutut di Sistem Telepon Digital Indonesia: Dua Patungan STDI-2

Rp 5.000,00

Penulis: Totok Amin Soefijianto, Tatik S. Hafidz
Media: EDITOR
Tahun: 1990, 24 November
Halaman: 82
Ukuran: 0,9 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9471 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Tidak akan diganti-ganti, karena kemampuan integrasinya terbatas.” — Ir. A. Ph. Djiwatampu, menekankan sifat jangka panjang dari teknologi STDI-2 yang dipilih.

“Kalau persentasenya (local content) terlalu kecil, kami jelas akan rugi.” — Krisnahadi S. Pribadi, menyoroti pentingnya nilai produksi lokal bagi keberlanjutan industri dalam negeri.

Kliping berjudul “Dua Patungan STDI-2” membahas babak baru industri telekomunikasi Indonesia pasca pengumuman pemenang tender Sistem Telepon Digital Indonesia tahap kedua (STDI-2). Dua raksasa dunia, NEC/Sumitomo (Jepang) dan AT&T (Amerika Serikat), terpilih untuk membangun sistem telepon digital nasional hingga tahun 2000. Sebagai syarat mutlak, keduanya diwajibkan menggandeng mitra lokal untuk mendirikan pabrik perakitan dan pengembangan sistem di Indonesia.

Kerja sama ini melahirkan dua entitas patungan: STDI-Nusa (NEC dengan PT Elektrindo Nusantara dari Grup Bimantara Citra) dan STDI-Citra (AT&T dengan PT Citra Lamtoro Gung Persada milik Siti Hardijanti Rukmana/Mbak Tutut). 

Pembagian saham masih dinegosiasikan, namun ada indikasi kuat bahwa mitra lokal akan memegang porsi dominan, berkisar antara 60% hingga 80%, sesuai dengan arahan BPIS yang dipimpin oleh B.J. Habibie untuk memastikan penguasaan teknologi.

Pemerintah melalui Perumtel (sekarang Telkom) menargetkan pembangunan satu juta Satuan Sambungan Telepon (SST) per tahun selama Pelita V guna memenuhi kebutuhan mendesak. Dari target awal 700.000 SST, masing-masing perusahaan patungan diharapkan mengelola 350.000 SST. Selain itu, ditekankan pula pentingnya local content (kandungan lokal). Krisnahadi S. Pribadi dari PT Elektrindo Nusantara menekankan bahwa persentase nilai produksi lokal sangat menentukan margin keuntungan mitra dalam negeri.

Meskipun teknologi utama berasal dari luar negeri, Indonesia telah menunjukkan kemampuan melalui PT INTI dan PT Elektrindo Nusantara yang sudah mampu merancang sentral telepon kecil. Ke depan, tantangan besar terletak pada pembangunan sistem transmisi dan outside plant pendukung. Proyek raksasa ini diperkirakan bernilai triliunan rupiah, jauh melampaui estimasi awal, dan menjadi tumpuan bagi modernisasi infrastruktur komunikasi Indonesia di masa depan.

NARASUMBER

Ir. A. Ph. Djiwatampu: Kepala Direktorat Telekomunikasi Depparpostel (Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi).

Krisnahadi S. Pribadi, Ph.D.: Direktur Eksekutif PT Elektrindo Nusantara.

Ir. Achadiat: Kepala Bidang Perencanaan Perumtel (Perusahaan Umum Telekomunikasi).

B.J. Habibie: Disebut sebagai Ketua BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis) yang menentukan arah kebijakan penguasaan teknologi.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.