Esai Darmanto Jatman: Sabda Pandhita Ratu

Rp 5.000,00

Penulis: Darmanto Jatman
Media: TAJUK
Tahun: 1998, 30 April
Halaman: 68-69
Ukuran: 3,59 MB

  • Versi Produksi: Digital/PDF
  • Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9433 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Orang Jawa percaya, kesalahan moral-mistis ini akan dihukum oleh Yang Ilahi, bukan oleh manusia.”

Kliping ini membedah konsep kepemimpinan Jawa melalui pepatah Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola-wali, yang berarti perkataan seorang pemimpin harus konsisten dan tidak boleh berubah-ubah.

Darmanto Jatman menyoroti relevansi etika kekuasaan ini di tengah situasi politik Indonesia tahun 1998, khususnya saat Presiden Soeharto menyatakan keinginan untuk lengser keprabon, madeg pandhita (turun takhta dan menjadi bijak/pendeta).

Penulis menggunakan alegori wayang untuk menjelaskan risiko pengingkaran janji. Kisah Sumantri yang mengkhianati adiknya, Sukasrana, serta Begawan Wisrawa yang gagal menjaga amanah, menjadi peringatan bahwa kesalahan moral seorang pemimpin berujung pada kehancuran tragis.

Dalam budaya Jawa, kredibilitas seorang pemimpin terletak pada kemampuannya menyelaraskan kata dan perbuatan (bawalaksana).

Jatman juga mengkritik fenomena “Pak Turut” atau budaya asal bapak senang yang lahir dari sejarah feodalisme dan kolonialisme. Ia menekankan bahwa dalam demokrasi modern, masyarakat atau “anak wayang” memiliki hak untuk tidak percaya jika penguasa kehilangan kredibilitasnya.

Esai ini ditutup dengan gagasan bahwa penguasa perlu melakukan mawas diri agar tidak kehilangan wahyu kepemimpinannya (koncatan wahyu kedhaton). Intinya, pemimpin yang tidak bisa dipegang kata-katanya akan kehilangan legitimasi moral di mata rakyat.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.