Keterangan
A.Teeuw pribadi telah dengan rendah hati membuka pintu: “…tidak ada buku ilmiah yang mempunyai nilai tetap atau wibawa mutlak. Apalagi buku mengenai sastra selalu bernilai subjektif, nisbi dan sementara; …”. Lebih dari itu Prof. A.Teeuw bahkan mengatakan: “Jika buku ini akan mendapat ‘wibawa’ dan dianggap ‘baku’, saya akan merasa sedih dan saya akan menganggap usaha saya gagal, sebab hal itu akan berarti bahwa masyarakat pembaca Indonesia kekurangan kreativitas, kekurangan hasrat membaca dan hasrat mencipta.” Suatu pernyataan yang tulus, sekaligus peringatan terus terang yang benar, maka karenanya patut diterimakasihi.
Tetapi yang tidak sehat ialah “budaya” yang mengikut dengan membabi-buta pada Sang Panutan itu. Inilah “budaya” pak turut alias “yes man” alias “ja broer”, kata orang Belanda. Budaya “pak turut” yang hanya pintar ber-“sahur manuk” alias (dalam jargon tapol G30S) “anthuk-anthukan” inilah yang harus diberantas. Sementara itu, dunia kehidupan kebudayaan akan menjadi semakin parah, jika tokoh yang dipandang sebagai Sang Panutan itu, tidak lagi memiliki jiwa inovatif, melainkan telah menjadi bergantung langsung atau tidak langsung kepada patronase dalam segala bentuknya. Misalnya patronase dalam bentuk kekuasaan politik atau partai, kekuasaan ruhani atau ideologi, atau kekuasaan modal.
—
Kliping ini menyajikan esai kritis karya Hersri Setiawan mengenai peristilahan dan penerjemahan buku Modern Indonesian Literature karya akademisi Belanda, Prof. A. Teeuw. Penulis memaparkan pengalamannya sebagai penerjemah jilid kedua buku tersebut yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dengan judul Sastra Indonesia Modern II.
Dalam kliping, Hersri menyoroti perbedaan peristilahan antara “sastra baru” dan “sastra modern”. Ia menegaskan bahwa kata “baru” tidak selalu bermakna “modern”, sebab modernitas mengandung nafas zaman yang terus membawa nilai kebaruan tanpa menjadi usang oleh perjalanan waktu.
Kliping ini juga mengkritik keras budaya patronase dan mentalitas mengikut membabi buta (pak turut) dalam dunia kesusastraan serta kebudayaan Indonesia. Penulis mengaitkan fenomena ini dengan ketergantungan pada kekuasaan politik, modal, hingga warisan kelembagaan kolonial seperti Balai Pustaka.
Melalui ulasan sejarah kebudayaan dan pandangan Bung Karno, kliping ini mengajak para peneliti serta budayawan untuk melepaskan diri dari patronase serta ukuran baku yang dipaksakan oleh kekuasaan demi membangun kebebasan berpikir yang sejati.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





