Keterangan
Dili, 7 Desember 1975. Belasan ribu tentara Indonesia mendarat dari laut dan udara. Pagi itu menjadi gelap, matahari terhalang pasukan payung yang diterjunkan dari kapal-kapal terbang. Seorang laki-laki muda, kurus, berambut panjang berlari-lacian. Tangannya membawa sebundel kertas ketikan. Kumpulan puisi yang ditulisnya pada beberapa tahun terakhir.
Tanggal 7 Desember, sembilan hari setelah proklamasi, tentara Indonesia melancarkan serbuan besar-besaran. Fransisco Borja da Costa kepergok seregu pasukan parakomando. Ia pun ditangkap, kemudian disiksa dan dibunuh. Sang penyair gugur pada usia 29 tahun sambil membawa kumpulan puisinya.
Kliping ini mengulas profil serta perjalanan hidup Fransisco Borja da Costa, seorang penyair dan aktivis pergerakan pembebasan nasional Timor Timur. Ia lahir di Fatu Berliu, Same, pada 14 Oktober 1946 dari keluarga liurai (penguasa lokal) dan menempuh pendidikan dasar serta seminaris di bawah naungan pastor Jesuit.
Pengalaman dinas wajib militer serta interaksinya dengan kelompok pemuda anti-kolonial di Dili memperkuat kesadarannya akan diskriminasi penjajahan Portugis. Lanjutan studinya di Lisbon, Portugal, mempertemukannya dengan karya-karya pemikir progresif dunia seperti Bertolt Brecht, Pablo Neruda, Maxim Gorky, hingga Paulo Freire.
Di Lisbon, Borja da Costa bergabung dengan Casa dos Timorense dan aktif mempublikasikan tulisan serta karya puisi perlawanan. Sekembalinya ke Timor Timur, ia dipercaya menjadi Sekretaris Informasi Komite Sentral FRETILIN dan giat menggalang kesadaran nasionalisme rakyat lewat seni dan budaya.
Melalui modifikasi puisi serta lagu tradisional seperti Foho Ramelau dan Kolele Mai, Borja da Costa berhasil menyatukan kebudayaan lokal dengan gagasan kebebasan nasional. Karya-karyanya menjadi media ampuh untuk membakar semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.
Kliping ini ditutup dengan kisah tragis gugurnya Borja da Costa saat terjadi serbuan militer Indonesia di Dili pada 7 Desember 1975. Meski ia dibunuh pada usia 29 tahun, puisi dan karya lagunya terus hidup serta dinyanyikan sebagai simbol perjuangan kebebasan rakyat Timor Timur.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





