Keterangan
“Jika posesivitas terhadap sesuatu yang material ternyata adalah sumber kesakitan eksistensial karena tidak menawarkan keabadian, maka tentu ada yang lebih abadi, yakni posesivitas terhadap sifat-sifat-Nya.”
Kliping berjudul “Posesivitas” karya Miranda Risang Ayu yang dimuat dalam majalah Ummat edisi No. 11 Thn. I, 27 November 1995 ini menguraikan sebuah renungan filosofis dan teologis mendalam mengenai sifat posesif manusia.
Penulis mengawali tulisannya dengan memori masa kecil yang sangat membekas tentang buah mangga melimpah pemberian sang kakek. Kebahagiaan masa kanak-kanak tersebut tanpa disadari melahirkan kesadaran posesif, yaitu anggapan keliru bahwa mendapatkan atau memiliki sesuatu secara melimpah berjalan paralel dengan kebahagiaan abadi.
Padahal, sumber kesakitan justru muncul ketika kesadaran itu membentur kenyataan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan segera berakhir, habis, dan selesai. Sifat posesif terhadap materi inilah yang dinilai sebagai manifestasi paling riil dari kegelisahan manusia akan rasa akhir.
Dalam perspektif yang lebih luas, kliping ini memandang bahwa tragedi kapitalisme global pada dasarnya merupakan wujud nyata dari tragedi posesivitas dalam skala makro. Begitu pula dengan kehancuran sistem komunisme dunia yang dinilai bersumber dari tragedi posesif kelompok tertentu terhadap kekuasaan.
Di dalam sejarah umat Islam sendiri, penulis mencontohkan kisah tragis Tsa’labah yang mati tragis karena kekayaannya, serta mengingatkan bagaimana cobaan tertinggi bagi para ulama adalah terjebak pada pesona kata-kata atau tingkat beramal demi mengejar pahala surga, bukan murni karena Allah.
Merujuk pada landasan sosiologis dari pemikiran Erich Fromm, kliping ini mengajak pembaca untuk bergeser dari modus memiliki menuju modus menjadi. Manusia diimbau untuk tidak hidup dan bekerja semata-mata didorong oleh keinginan mendapatkan materi, melainkan atas dasar ketulusan untuk memberi.
Penulis meyakini bahwa Allah telah memberikan hak kepada manusia untuk secara sadar berikhtiar menumbuhkan sifat-sifat jamaliyah (keindahan) di dalam dirinya. Melalui penumbuhan sifat teologis seperti Maha Pengasih, Penyayang, dan Penyabar tersebut, manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam, sekaligus membebaskan diri dari belenggu kesakitan eksistensial duniawi.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





