Keterangan
Perubahan faktor sosio-struktural, faktor interaksi sosial dan situasional, serta pola reaksi sosial terhadap kejahatan-kejahatan, termasuk efektivitas penegakan hukum, berpengaruh terhadap corak, sifat, luas, dan kecenderungan kriminalitas di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.
Dalam tahun 1996, mengedepan pula kekerasan yang dilakukan oleh aparat resmi, khususnya dalam konteks solusi masalah, yakni kekerasan destruktif yang tidak ditangani secara proporsional, kekerasan institusional yang memperoleh pembenaran, dan kekerasan kolektif lain yang tidak diselesaikan secara tuntas. Hal itu secara bersama-sama telah semakin menyuburkan adanya yang disebut budaya tanding kekerasan (counter culture of violence) dan krisis kewibawaan hukum.
—–
Kliping ini berisi analisis kecenderungan kriminalitas di Indonesia sepanjang tahun 1996. Walaupun secara kuantitatif angka kejahatan diklaim mengalami penurunan 2,4 persen oleh Polri, berbagai bentuk kejahatan bermotif baru dan beresiko tinggi makin marak.
Kliping ini mengulas peningkatan perampokan nasabah bank bersenjata api, kejahatan sektor perbankan yang merugikan triliunan rupiah, hingga melonjaknya peredaran gelap narkotika jenis ekstasi. Penulis menyoroti pula tindak kekerasan seksual yang sporadis serta lemahnya perangkat hukum dalam mengantisipasi praktik pencucian uang (money laundering).
Kliping ini menyimpulkan bahwa penanganan kekerasan oleh aparat resmi yang tidak tuntas telah memicu lahirnya budaya tanding kekerasan (counter culture of violence). Penulis mendorong pembaharuan sistem pemidanaan dan strategi penanggulangan kejahatan yang terintegrasi agar dapat mengembalikan kewibawaan hukum.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





