Film Kita, Perwujudan Impian?

Rp 5.000,00

Penulis: Didi Sunardi
Media: EDITOR
Tahun: 1990, 24 Novemberl
Halaman: 98
Ukuran: 0,9 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 15

SKU: KL_9458 Kategori: Label ,

Keterangan

“Ide pokok film-film Indonesia tidak mendorong penonton untuk berpikir. Serta tidak memperkaya rohani dan intelektual penonton.” — Rosihan Anwar

“Film-film Indonesia bukan manusia secara utuh yang terkait dengan lingkungannya dan berpijak pada kenyataan, melainkan perwujudan dari impian.” — Arifin C. Noer

Kliping ini menyoroti potret buram industri perfilman Indonesia di tengah gegap gempita Festival Film Indonesia (FFI) 1990. Meski filmTaksi karya Arifin C. Noer berhasil memborong enam Piala Citra dan memberikan dimensi kemanusiaan pada profesi sopir taksi, pencapaian tersebut tidak serta-merta mencerminkan kesehatan kualitas film nasional secara umum.

Persoalan mendasar yang diangkat adalah lemahnya skenario. Rosihan Anwar, selaku Ketua Dewan Juri FFI ’90, melontarkan kritik tajam bahwa ide pokok film-film Indonesia saat ini tidak mendorong penonton untuk berpikir atau memperkaya rohani intelektualnya. Kualitas film justru dianggap menurun di saat jumlah produksi meningkat (dari 73 judul di tahun sebelumnya menjadi 96 judul). Film-film yang laku di pasar justru bukan film yang diunggulkan secara kualitas, melainkan film yang mengikuti selera pasar yang rendah demi keamanan finansial.

Selain skenario, intervensi komersial menjadi masalah serius. Adanya paksaan untuk memasukkan “bumbu iklan” dari sponsor ke dalam alur cerita merusak estetika dan kesegaran film. Sutradara Nasri Chepy mengakui bahwa keputusan penyisipan iklan sering kali diambil sepihak oleh produser.

Di sisi lain, dominasi broker dalam distribusi film memperparah keadaan. Sistem perdagangan film yang tidak sehat membuat produser sering kali berada dalam posisi lemah, di mana hak edar film dibeli dengan harga murah, sementara keuntungan besar mengalir ke pihak perantara. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang menghambat pendewasaan insan film dalam berkarya. Pada akhirnya, film Indonesia terjebak antara menjadi karya seni yang jujur atau sekadar perwujudan impian komersial pihak-pihak tertentu.

NARASUMBER

Rosihan Anwar: Ketua Dewan Juri FFI ’90 (memberikan kritik mengenai kelemahan skenario dan kualitas intelektual film).

Arifin C. Noer: Sutradara film Taksi dan pemenang Piala Citra (memberikan pandangan mengenai film sebagai perwujudan impian).

Nasri Chepy: Sutradara film Catatan Si Boy (memberikan keterangan mengenai intervensi iklan dari pihak produser).

Dewan Juri FFI ’90 di Bandung: Secara kolektif dikutip mengenai evaluasi terhadap mutu film nasional.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.