Ketegangan di Timor Timur: Dari Dili Menuju Vatikan

Rp 5.000,00

Penulis: M. Fdhilah Zaidie
Media: TIRAS
Tahun: 1995, 26 Oktober, No.39, Thn.1
Halaman: 71
Ukuran: 1,58 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9474 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Persoalan Timtim sesungguhnya tidak semata persoalan agama, tapi juga persoalan sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.” — Dr. Nurcholish Madjid

“Memang ada informasi-informasi yang ingin menambah suasana jadi kacau. Mereka biasanya mengaitkan dengan isu SARA, dan bentrokan dengan aparat.” — Brigjen (TNI) Suwarno Adiwijoyo

Kliping ini menyoroti situasi keamanan yang mencekam di Dili, Timor Timur (saat itu provinsi ke-27 Indonesia), yang digambarkan menyerupai ketegangan di daerah Bronx, New York. Sepanjang pekan di awal Oktober 1995, kerusuhan pecah yang melibatkan pembakaran di jalanan, bentrokan antarkelompok pemuda, hingga jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Pemicu fisik kerusuhan bermula dari penusukan seorang warga bernama Salamao da Costa Soares, yang kemudian meluas menjadi konflik antarkampung (Caicoli dan Matadouro) serta melibatkan isu SARA.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Agama Dr. Tarmizi Taher memimpin delegasi berjumlah 20 orang menuju Vatikan pada 26 Oktober 1995. Meski muncul spekulasi bahwa kunjungan ini bertujuan membahas status keuskupan Timor Timur dengan Paus Johannes Paulus II, Tarmizi Taher membantah hal tersebut. Ia menegaskan bahwa agenda utamanya adalah kunjungan balasan dan memaparkan keberhasilan toleransi antaragama di Indonesia, bukan untuk mendiskusikan eksistensi Uskup Belo.

Analisis dari tokoh cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur) memberikan perspektif lebih dalam, bahwa persoalan di Timor Timur bukan sekadar masalah agama, melainkan akumulasi masalah sosial, ekonomi, dan politik. Dominasi gereja yang sangat kuat di masa Portugis mengalami pergeseran posisi setelah integrasi, menciptakan dinamika tarik-menarik kepentingan antara pemerintah dan peran Uskup Belo sebagai tokoh agama.

Kliping ini menyimpulkan adanya ketegangan laten di mana pemerintah ingin “memanfaatkan” Belo untuk mengatur stabilitas, sementara di sisi lain posisi tersebut juga digunakan untuk kepentingan politik lokal.

NARASUMBER

Dr. Tarmizi Taher: Menteri Agama Republik Indonesia saat itu.

Manuel Carrascalao: Anggota DPRD Timor Timur (adik kandung mantan Gubernur Mario Carrascalao).

Brigjen (TNI) Suwarno Adiwijoyo: Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI.

Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur): Cendekiawan Muslim.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.