Keterangan
“Pesantren kota dianggap mampu memberikan tawaran alternatif kultural terhadap masyarakat sekelilingnya yang sudah dijangkiti kegelisahan mengenai berbagai ancaman negatif budaya global.”
“Dulu, kiai berfungsi efektif sebagai makelar budaya… Namun, bila fungsi penyaring informasi itu hilang, maka perannya hanya akan menjadi alat justifikasi politik.”
Kliping ini mengulas transformasi pendidikan Islam di Jakarta, yang secara historis tidak mengenal tradisi pesantren karena masyarakat Betawi lebih akrab dengan institusi “langgar”. Namun, seiring pesatnya urbanisasi dan modernitas, muncul fenomena “Pesantren Kota” seperti Asshiddiqiyah, Darunnajah, dan As-Syafi’iyah sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat urban terhadap dampak negatif budaya global.
Pesantren kota hadir sebagai “alternatif kultural” bagi orang tua yang sibuk namun khawatir akan ancaman materialisme dan kenakalan remaja (tawuran). Institusi ini melakukan adaptasi dengan memadukan kurikulum salaf dan modern, bahkan merambah ke pendidikan kejuruan dan politeknik. Sosok K.H. Noer Muhammad Iskandar (Asshiddiqiyah) menjadi representasi utama “Ulama Megapolitan” yang urban; ia mampu bergaul dengan kalangan istana, pengusaha, hingga budayawan kritis seperti Rendra dan Emha Ainun Nadjib.
Namun, pengamat seperti Masdar F. Mas’udi mengingatkan bahwa keberhasilan pesantren kota juga didorong oleh psikologi masyarakat urban yang masih memiliki ikatan emosional dengan tata nilai desa.
Di sisi lain, Emha Ainun Nadjib melihat pesantren sebagai tempat “rekreasi spiritual” bagi warga kota yang jenuh dengan rutinitas duniawi. Meski begitu, terdapat tantangan politis di mana figur ulama populer sering kali dijadikan alat justifikasi bagi kelompok elite politik, yang menurut perspektif Clifford Geertz, menggeser peran kiai sebagai “makelar budaya” menjadi sekadar instrumen kekuasaan. Secara historis, akar pendidikan ini tetap berpijak pada tradisi “lekar-lekar langgar” dan guru-guru legendaris Betawi yang kini telah bermetamorfosis menjadi institusi pendidikan modern yang masif.
NARASUMBER
K.H. Noer Muhammad Iskandar, S.Q.: Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.
Masdar F. Mas’udi: Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): Budayawan.
Drs. Ridwan Saidi: Pengamat budaya Betawi dan mantan politikus.
Dra. Hj. Tooti Alawiyah: Pimpinan As-Syafi’iyah.
H.M. Tamsur Marse: Direktur Pesantren Pertanian Darul Fallah, Bogor.
Ir. H.M. Zahri Syatriti Ahmad: Salah satu pimpinan Perguruan Attahiriyah.
DAFTAR ISI KLIPING
A: Fenomena Pesantren Kota. Pengantar mengenai kemunculan pesantren-pesantren besar di tengah megapolitan Jakarta yang dulu hanya mengenal langgar.
B – C: Pesantren Kota Sebagai Alternatif. Menjelaskan peran pesantren sebagai solusi bagi masyarakat urban untuk membentengi anak-anak dari dampak negatif modernitas.
D: Kegugupan Transformasi Diri. Analisis Budayawan Emha Ainun Nadjib mengenai peran pesantren sebagai tempat rekreasi spiritual dan tantangan globalisasi.
E – F: Mencari Figur Ulama Megapolitan. Profil K.H. Noer Muhammad Iskandar sebagai sosok ulama urban yang memiliki jaringan luas dari istana hingga kalangan budayawan.
G – H: Tumbuh dari Lekar-Lekar Langgar. Tinjauan historis mengenai silsilah guru-guru besar di Betawi dan evolusi pendidikan Islam dari sistem langgar ke sistem madrasah dan pesantren.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

