Buku-Buku Emha Ainun Nadjib: Orang Jawa Mengkritik Politik Jawa

Rp 5.000,00

Penulis: Idrus F. Shahab
Media: TIRAS
Tahun: 1995, 26 Oktober, No.39, Thn.1
Halaman: 80
Ukuran: 1,58 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9476 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Terkadang, mata seorang budayawan bisa memandang lebih tajam daripada ilmuwan politik.”

Kliping yang ditulis oleh Idrus F. Shahab ini mengulas fenomena di mana budayawan sering kali memiliki ketajaman analisis politik yang melampaui para ilmuwan politik akademis. Ketajaman ini dibahas melalui tinjauan atas dua buku karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang terbit pada masa itu: Opini Plesetan (Oples) dan Gelandangan di Kampung Sendiri. Cak Nun dipandang sebagai prototipe budayawan yang mampu mengartikulasikan peristiwa politik mutakhir dengan bahasa yang lebih fasih dan merdeka dibandingkan disiplin sains murni yang sering kali terasa “tumpul” saat berhadapan dengan realitas lapangan.

Cak Nun menggunakan metafora, parodi, hingga mitologi rakyat untuk membedah kekuasaan. Salah satu contoh yang disorot adalah esai “Politik Islam: Politik Batu Hitam” dalam buku Oples.

Di sana, Cak Nun menghidupkan kembali narasi Mpu Gandring dan Ken Arok sebagai cermin politik kontemporer. Mpu Gandring, yang semula penasihat spiritual, justru tewas di tangan Ken Arok sebagai tumbal ambisi kekuasaan. Ken Arok sendiri digambarkan sebagai politikus pragmatis yang menghalalkan segala cara—termasuk membunuh Tunggul Ametung—untuk mencapai puncak kejayaan. Gaya penulisan ini memancing pembaca untuk “membaca di antara baris” (read between the lines) dan menebak-nebak siapa sosok Ken Arok modern dalam peta politik Indonesia saat itu.

Kritik ala budayawan Jawa ini memiliki format yang unik: keras namun lentur karena sering dilancarkan secara anonim tanpa menyebut aktor politik secara langsung. Meskipun dalam Gelandangan di Kampung Sendiri Cak Nun sempat menyebut nama tokoh seperti Gus Dur dan Soedomo, inti kekuatannya terletak pada kemampuannya menyentuh aspek psikologis dan kultural masyarakat.

Kliping resensi buku ini menyimpulkan bahwa kemunculan karya-karya semacam ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi masyarakat Indonesia yang sedang dalam masa transisi; “setengah tubuhnya masih berada dalam nilai-nilai agraris, sedangkan setengah lainnya telanjur basah di alam nilai industri modern.” Kerancuan kultural inilah yang justru melahirkan kritik-kritik tajam yang dibungkus dalam bentuk tragedi maupun komedi.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.