Keterangan
“Pokoknya harus membeli kapal-kapal yang bisa dibuat oleh putra-putri Indonesia sendiri. Dalam hal ini kapal ikan, dan tidak bisa beli kapal bekas.” — B.J. Habibie
“Kalau tidak dikabulkan, yang dirugikan adalah negara di satu pihak, dan nelayan di pihak lain. Siapa untung, yaitu pihak asing.” — Tuk Setyohadi (Ketua Umum HNSI)
Kliping ini membahas dilema industri perikanan Indonesia yang memiliki potensi devisa besar namun terkendala oleh minimnya armada kapal penangkap ikan. Meski sektor ini diproyeksikan mampu menyumbang devisa hingga US$ 6 miliar per tahun (melampaui ekspor kayu), realisasinya pada pertengahan 1990-an baru mencapai US$ 1,6 miliar.
Masalah utama terletak pada rendahnya kemampuan armada nasional yang hanya mampu menggarap sekitar 34% dari total potensi ikan di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEEI). Akibatnya, industri pengolahan dan pengalengan ikan domestik kekurangan bahan baku kronis dan hanya beroperasi pada kapasitas 44%.
Ketegangan muncul antara pengusaha yang tergabung dalam Gappindo dengan kebijakan pemerintah. Ketua Umum Gappindo, Sudwikatmono, mendesak pemerintah untuk membuka kembali keran impor kapal ikan (baru maupun bekas) berbobot di atas 100 GT. Menurutnya, galangan kapal nasional belum mampu memenuhi kebutuhan kapal dalam waktu cepat. Namun, pandangan ini ditentang keras oleh Menristek B.J. Habibie. Habibie bersikeras bahwa pengusaha harus menggunakan kapal buatan dalam negeri untuk mendukung industri strategis nasional, seraya mengingatkan bahwa di masa lalu pengusaha sering menyalahgunakan masa transisi impor kapal.
Situasi ini semakin diperparah oleh praktik kapal asing di ZEEI yang sering kali melarikan hasil tangkapan langsung ke luar negeri melalui transshipment di tengah laut, yang diperkirakan merugikan negara hingga US$ 1 miliar per tahun. Sebagai solusi tengah, Departemen Perindustrian mengajukan rancangan Rasio 1 : 5, yakni kewajiban bagi pengusaha untuk membeli 1 unit kapal produksi dalam negeri untuk setiap 5 unit kapal yang diimpor.
NARASUMBER
Ir. H.M. Yamin Rahman: Direktur Industri Ternak dan Perikanan Departemen Perindustrian.
Sudwikatmono: Ketua Umum Gappindo (Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia).
B.J. Habibie: Menristek / Ketua Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS).
Laksda F.X. Murdjijo: Dirjen Perikanan Departemen Pertanian.
Tuk Setyohadi: Ketua Umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





