Keterangan
“Kita mau menyeret Soeharto keluar dari rumahnya di Cendana dan dilakukan pengadilan rakyat terhadapnya. Kami sulit percaya bahwa lembaga-lembaga yang ada dan Habibie mampu menyeret Soeharto ke pengadilan.”
Massa mahasiswa kembali turun ke jalan menuju sasaran bidik baru, yakni kediaman mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana Nomor 10, Jakarta Pusat. Aksi demonstrasi ini dipicu oleh kekecewaan mahasiswa terhadap Sidang Istimewa MPR yang dinilai tak mengakomodasi tuntutan reformasi. Gelombang protes yang meluas tersebut diberitakan secara mendalam oleh media Adil.
Kepercayaan mahasiswa terhadap kesungguhan pemerintah Presiden Habibie dan aparat hukum untuk mengadili Soeharto berada pada titik terendah. Berbagai elemen mahasiswa menyusun beragam skenario gerilya politik dan pengepungan untuk menembus pertahanan ketat aparat keamanan di kawasan Cendana.
Kawasan Jalan Cendana kini dijaga sangat ketat oleh aparat gabungan tentara dan kepolisian. Ketatnya penjagaan serta keberadaan barikade militer membuat kenyamanan warga sekitar terganggu dan mengubah suasana pemukiman elite tersebut.
Perhitungan mistis, pertimbangan keakraban keluarga, dan fengsui disinyalir menjadi alasan Soeharto lebih memilih bertahan di Cendana dibanding Istana Merdeka. Kawasan ini telah meluas menjadi basis keluarga besar Cendana sejak dekade 1970-an.
Tuntutan mahasiswa dinilai oleh pihak kerabat Cendana telah bergeser dari fokus penegakan hukum murni. Di sisi lain, Jaksa Agung menyatakan penanganan harta kekayaan Soeharto terus berjalan secara cermat.
Daftar Narasumber
Adrian: Aktivis Forkot.
Irwan: Aktivis FKSMJ.
V.A. Munthe: Aktivis Forbes.
Fitra Arsil: Aktivis KAMMI.
Debra Yatim: Aktivis perempuan dan warga kawasan Cendana.
K.R.T. Kusumo Tanoyo: Penasihat spiritual Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Permadi, S.H.: Paranormal.
Mashuri, S.H.: Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Probosutedjo: Kerabat Soeharto.
Andi M. Ghalib: Jaksa Agung.
Daftar Isi Kliping
Sasaran Bidik: Menyeret Soeharto (Halaman 4)
Aksi gelombang demonstrasi massa mahasiswa yang mengalihkan sasaran gerakan langsung menuju kediaman mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana.
Siapa Percaya Soeharto akan Dihukum (Halaman 4)
Keraguan publik dan mahasiswa terhadap komitmen pemerintah Presiden Habibie serta aparat penegak hukum dalam mengadili Soeharto.
Soeharto dari Cendana (Halaman 5)
Ulasan mengenai berbagai strategi gerilya pergerakan mahasiswa serta peta skenario aksi untuk menembus pengamanan ketat menuju Cendana.
Mereka Bicara tentang Cendana (Halaman 5)
Pandangan dan sikap dari para perwakilan aktivis berbagai organisasi mahasiswa mengenai pengadilan rakyat dan pengerahan massa ke Cendana.
Kompleks Penguasa (Halaman 6)
Sejarah penguasaan lahan pemukiman elite Jalan Cendana oleh keluarga Soeharto serta dinamika perubahan sosial masyarakat di sekitarnya.
Siapa yang Mengamankan Soeharto? (Halaman 6)
Sistem pengamanan berlapis dari aparat militer dan kepolisian yang menjaga ketat kediaman Soeharto pasca-lengser dari jabatan presiden.
Istana Jawa Modern (Halaman 7)
Tinjauan mengenai aspek kebiasaan, pertimbangan mistis, fengsui, dan tata letak spiritual rumah Jalan Cendana bagi keluarga Soeharto.
Misteri Rumah Cendana (Halaman 7)
Kisah mistis dan desas-desus yang melingkupi rumah kediaman Soeharto serta anggapan masyarakat mengenai pengaruh spiritual kawasan tersebut.
Tuntutan Mereka Sudah tidak Murni (Halaman 8)
Wawancara khusus dengan Probosutedjo mengenai tanggapan pihak keluarga terhadap aksi demonstrasi mahasiswa dan usutan harta kekayaan Soeharto.
Untuk Mencekal, tidak Sembrono (Halaman 8)
Pernyataan resmi Jaksa Agung Andi M. Ghalib terkait prosedur hukum dan penyidikan aset kekayaan mantan Presiden Soeharto.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

