Keterangan
“Setiap mata yang membaca koran, nonton TV dan internet, setiap telinga yang mendengar pada dasarnya adalah jendela-jendela informasi melalui apa berlangsung rangkaian penulisan kode program di kepala: pembusukan citra baik, dan penciptaan citra busuk tentang tentara.”
Kliping ini menyoroti dinamika politik dan aparat keamanan pasca-Tragedi Semanggi. Pihak kepolisian dan pemerintah menuduh sejumlah tokoh Barisan Nasional (Barnas) serta kelompok 17 melakukan gerakan makar.
Namun, kalangan mahasiswa tetap berfokus menuntut tanggung jawab politis pimpinan militer. Muncul dugaan kuat bahwa tentara sengaja menyusupkan provokator bayaran ke tengah kerumunan massa aksi.
Pengakuan intel partikelir serta temuan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menguatkan bukti adanya keterlibatan oknum militer dalam mengacaukan aksi. Selain itu, dinamika penangkapan tokoh politik seperti Ali Sadikin, Kemal Idris, Hariadi Darmawan, dan Roch Basoeki Mangoenpoerojo dinilai sebagai langkah membungkam sikap kritis.
Tindakan brutal aparat dan pembentukan opini publik telah merusak citra militer di mata masyarakat.
Daftar Narasumber
Juwono Sudarsono: Menhankam/Pangab dan Guru Besar FISIP UI.
Yos: Intel partikelir/informan bayaran.
Muchtat: Aktivis LBH.
Ali Sadikin: Tokoh Petisi 50 dan mantan Gubernur DKI Jakarta.
Rachmat Witoelar: Sekretaris Barisan Nasional.
Munir: Koordinator Badan Pekerja Kontras.
Ray Rangkut: Aktivis Forum Mahasiswa (Forma) Indonesia.
Ahmad Hadi: Aktivis FKSMJ.
Roesmanhadi: Kapolri
Wiwid Pratiwo: Saksi/penyusup militer dan mahasiswa Universitas Trisakti.
Hikmat Budiman: Pengamat sosial dan alumni Fisipol Universitas Gadjah Mada.
Daftar Isi Kliping
Provokator Buatan Tentara (Halaman 16)
Ada baiknya juga polisi menuduh sejumlah orang Barnas melakukan makar. Tetapi mahasiswa tak mau berpaling.
Kesaksian Penyusup Militer (Halaman 17)
Sejumlah temuan menunjukkan adanya oknum militer yang disusupkan menjadi provokator aksi. Pengakuan saksi mengungkap keterlibatan aparat dalam merekrut massa dan mengacaukan gerakan mahasiswa.
Mereka di Bawah Ancaman (Halaman 17)
Banyak bagian-bagian masyarakat yang digunakan untuk melakukan operasi intelijen berada di bawah ancaman. Kontras mendesak perlunya ruang perlindungan bagi saksi dan korban.
Mereka Pun Dianggap Reformis (Halaman 18)
Sepuluh tokoh penandatangan Komunike Bersama resmi menjadi tersangka tindakan makar. Kelompok tua tersebut dituntut meminta maaf kepada mahasiswa, meski sebagian besar dari mereka adalah loyalis rezim Soeharto.
Dirangkul Lalu Diciduk (Halaman 19)
Ali Sadikin dikenal sebagai oposan keras sejak era Soeharto melalui Petisi 50. Meski sempat dirangkul pada masa Habibie, ia akhirnya tetap dijadikan sasaran penangkapan.
Jenderal Sampah itu (Halaman 19)
Kemal Idris merupakan jenderal yang vokal mengkritik pemerintahan Habibie. Mantan Pangkostrad ini ikut terlibat dalam gerakan Barisan Nasional.
Dicopot Jabatannya (Halaman 19)
Hariadi Darmawan kehilangan jabatannya sebagai Dirjen Departemen Kehutanan setelah ikut menandatangani Komunike Bersama. Ia aktif bermanifestasi dalam gerakan mahasiswa di UI.
Orang Transmigran (Halaman 19)
Roch Basoeki Mangoenpoerojo merupakan purnawirawan ABRI yang aktif di PDI Perjuangan. Ia dituduh terlibat dalam pembentukan Barisan Nasional.
Tentara dan Anak Kita Nanti (Halaman 19)
Opini tulisan Hikmat Budiman membedah kekerasan militer dalam Tragedi Semanggi dan dampaknya terhadap persepsi publik. Tindakan represif aparat dinilai merusak citra tentara di mata generasi mendatang.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

