Pementasan “Imam Bonjol” oleh Bumi Teater Sumatra Barat

Rp 5.000,00

Penulis: Bakarudin
Media: TIRAS
Tahun: 1995, 26 Oktober, No.39, Thn.1
Halaman: 79
Ukuran: 1,56 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 15

SKU: KL_9496 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Imam Bonjol dalam pandangan Ikranegara bukanlah seorang Rambo. Ia sangat religius dan merupakan seorang sufi.”

Kliping bertajuk “Sisi Kemanusiaan Imam Bonjol” yang dimuat dalam majalah TIRAS (26 Oktober 1995) ini mengulas kontroversi seputar pementasan teater Imam Bonjol karya sutradara Wisran Hadi. 

Pementasan lakon teater Imam Bonjol oleh Bumi Teater Sumatra Barat di Taman Ismail Marzuki (13/10/1995) memicu gelombang protes keras, terutama dari Gubernur Sumatra Barat kala itu, Hasan Basri Durin. Inti dari keberatan tersebut adalah penggambaran Imam Bonjol yang dianggap “merusak citra pahlawan” karena menampilkan sisi kemanusiaan yang rapuh, bukan sekadar sosok heroik yang tak terkalahkan sebagaimana narasi dalam buku sejarah resmi.

Lakon ini menyoroti pergulatan batin Peto Syarif (Imam Bonjol) di tengah kecamuk Perang Padri yang melelahkan. Wisran Hadi menampilkan sosok pemimpin yang bisa merasa ragu, letih melihat pertumpahan darah antar-saudara, dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan peperangan demi menyelamatkan rakyat dari kelaparan dan kemiskinan. Namun, sikap tersebut justru dipahami secara berbeda oleh pengikutnya; sebagian menginginkan perdamaian, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk penyerahan diri yang memicu perpecahan baru.

Budayawan Ikranegara membela visi artistik Wisran Hadi dengan menyatakan bahwa riset sejarah yang mendalam mendasari penciptaan lakon ini. Baginya, Imam Bonjol bukanlah sosok “Rambo” yang tanpa cela, melainkan seorang sufi yang sangat religius namun tetap memiliki sifat-sifat manusiawi. Melalui pementasan ini, penonton diajak untuk melihat Imam Bonjol bukan sebagai malaikat, melainkan sebagai manusia biasa yang bergulat dengan takdir dan tanggung jawab moral yang berat. Kontroversi ini menjadi refleksi atas benturan antara kebebasan seni dalam menafsirkan sejarah dengan upaya menjaga kesakralan simbol kepahlawanan nasional.

NARASUMBER

Hasan Basri Durin: Gubernur Sumatra Barat yang melayangkan protes resmi dan menilai pementasan tersebut merusak citra kepahlawanan.

Ikranegara: Budayawan/Seniman yang memberikan pembelaan dan analisis mengenai karakter Imam Bonjol dari sudut pandang sejarah dan religi (sufisme).

Wisran Hadi: Sutradara Bumi Teater Sumatra Barat sekaligus penulis naskah lakon Imam Bonjol (disebut sebagai subjek kreatif yang melakukan riset sejarah).

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.