Keterangan
“Melalui pertunjukan rakit ini kami berhasil mencium bau limbah Ciliwung. Bau yang berasal dari limbah orang-orang kaya.”
Kliping dari majalah UMMAT edisi 27 November 1995 ini menyajikan ulasan mendalam mengenai perkembangan seni kontemporer di Indonesia dalam rubrik Rupa Karya.
Bagian pertama tulisan yang berjudul “Sebuah ‘Rakit’ dan Limbah Sejarah” ditulis Tulus Widjanarko dan Yadi Sastro. Tulisan tersebut mendokumentasikan sebuah pementasan seni rupa pertunjukan kolaboratif bertajuk Rakit yang digelar oleh sekelompok seniman asal Bandung di sepanjang aliran Kali Ciliwung.
Pertunjukan instalatif ini memanfaatkan rakit bambu sebagai panggung utama di hadapan ratusan penonton yang memadati bantaran kali, tepatnya di depan Masjid Istiqlal. Pertunjukan ini merefleksikan beban limbah industri serta kritik sosial atas kesenjangan realitas antara masyarakat kaya dan miskin.
Sejumlah seniman terkemuka seperti Putu Wijaya, Endo Suanda, Hendrawan Riyanto, Restu Imansari, Tom Broer, Marjie Suanda, dan Ine Arini terlibat aktif merespons ruang terbuka tersebut.
Sebelum aksi dimulai, komposer Hary Roesli membacakan narasi doa yang memohon petunjuk bagi para pemimpin negeri agar memahami esensi demokrasi dan memperoleh cahaya keadilan yang gilang-gemilang. Sutradara Garin Nugroho juga hadir menyaksikan jalannya sublimasi realitas ini.
Sementara itu, tulisan kedua bertajuk “Seni Jamaah, Seni Menerobos Pagar-pagar” yang ditulis Gus Ballon membahas terobosan baru seni rupa kontemporer dalam perhelatan Festival Istiqlal II.
Fenomena ini diperkenalkan sebagai “seni jamaah”, sebuah metode kesenian kolaboratif yang meleburkan berbagai macam disiplin seni seperti tari, musik, teater, serta seni instalasi menjadi satu kesatuan ekspresi yang utuh.
Berbeda dengan konsep seni modern konvensional yang berorientasi pada ego individual, seni jamaah memposisikan seluruh eksponen—termasuk para pelaku seni, penonton, lingkungan alam, hingga elemen fisik seperti air dan api—sebagai subjek peristiwa yang setara.
Hendrawan Riyanto menegaskan bahwa praktik kesenian kolektif ini sangat mengutamakan kebersamaan, niat, kepercayaan, kepasrahan, dan sifat keterbukaan. Melalui pendekatan kultural ini, ulasan dalam kliping membuktikan bahwa manifestasi seni kontemporer bernapas Islam tidak lagi terbatas pada estetika tradisional Timur Tengah, melainkan meluas menuju pemaknaan dimensi sosial, ibadah, dan muamalah.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





