Wawancara Juwono Sudarsono: “Pemerintah Sedang Memikul Beban Keberhasilan Sendiri”

Rp 20.000,00

Penulis: Zainal Abidin, Dhorifi Zumar
Media: UMMAT
Tahun: 1995, 27 November, No.11 Th.I
Halaman: 36-39
Ukuran: 6,68 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9576 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Pemerintah ini sekarang sedang memikul beban keberhasilannya sendiri. Keberhasilan pembangunan menciptakan kelas menengah baru … yang lebih vokal yang tidak dibebani oleh trauma-trauma politik tahun 60-an atau 70-an, yang meminta keterbukaan.”

Kliping rubrik Wawancara majalah Ummat edisi 27 November 1995 ini memuat pemikiran Prof. Dr. Juwono Sudarsono selaku Wakil Gubernur Lemhanas mengenai berbagai isu geopolitik dan domestik Indonesia. 

Penulis buku Politik, Ekonomi, dan Strategi (1995) ini mengawali pandangannya dengan menyoroti dinamika Timur Tengah pasca-penembakan Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin. Menurutnya, meskipun terjadi pergolakan internal di Israel akibat pertentangan kelompok radikal kanan terhadap kebijakan kompromi teritorial dengan PLO, proses perdamaian yang dipimpin oleh Shimon Peres diperkirakan akan tetap berlanjut karena kedua belah pihak secara umum telah mengalami kejenuhan akibat perang yang berkepanjangan.

Terkait kebijakan luar negeri, Juwono menekankan posisi Indonesia yang tetap memprioritaskan penyelesaian masalah Palestina secara menyeluruh sebelum membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Juwono juga merespons kritik internasional dari lembaga seperti Amnesty International terkait isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokratisasi di Timor Timur dengan menyatakan bahwa kritik tersebut sering kali menggunakan standar ganda dan abai terhadap ketimpangan sosial-ekonomi substantif yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.

Beralih ke isu domestik, kliping ini menguraikan fenomena maraknya pembentukan organisasi kemasyarakatan (ormas) baru seperti PCPP, YKPK, PNI baru, dan Parkindo baru. Juwono menilai bahwa kemunculan wadah-wadah ini merupakan bentuk kejenuhan terhadap sistem organisasi sosial politik yang ada serta cerminan dari lahirnya kelas menengah baru hasil pembangunan ekonomi era Orde Baru. 

Kelas menengah ini cenderung lebih vokal dan menuntut keterbukaan karena tidak lagi dibayangi oleh trauma politik masa lalu. Dibandingkan menonjolkan ormas simbolik berbasis identitas tua, ia memandang agenda politik nasional yang jauh lebih mendesak adalah membangun masyarakat warga (civil society) yang digerakkan oleh kelompok-kelompok profesi baru. 

Kliping ditutup dengan penegasan Juwono mengenai pentingnya meningkatkan keteladanan dan kesederhanaan guna membendung dampak negatif konsumerisme modern serta fenomena orang kaya baru (OKB) di Indonesia.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.