Keterangan
“Dari seluruh tangan yang ada di dunia, tangan (Arafat) inilah yang tak pernah saya inginkan. Saya tak pernah bermimpi, bahkan untuk menyentuhnya.”
Kematian Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin akibat pembunuhan yang dilakukan oleh Yigal Amir—mahasiswa berumur 25 tahun dari kelompok radikal kanan Yahudi—menjadi sebuah fenomena sekaligus ujian berat bagi kelanjutan proses perdamaian Arab-Israel. Proses perdamaian bersejarah yang dimotori oleh perjanjian damai di Washington pada 13 September 1993 tersebut menyisakan pertanyaan besar mengenai masa depannya, terutama karena adanya penolakan kuat dari kelompok garis keras di kedua belah pihak.
Di kalangan Yahudi radikal, Rabin dianggap sebagai pengkhianat karena bersedia menyerahkan tanah Israel kepada bangsa Palestina, sementara di mata faksi radikal Palestina seperti Hamas dan Jihad Islam, kesepakatan tersebut dinilai sinis dan sekadar memberikan otonomi terbatas tanpa kemerdekaan penuh bagi Negara Palestina.
Setelah wafatnya Rabin, tampuk kepemimpinan dialihkan untuk sementara kepada Shimon Peres sebagai pejabat perdana menteri. Sosok Peres yang dikenal lebih kosmopolit, lembut, dan penuh perasaan berbeda watak dengan Rabin yang terkenal kasar serta melegenda dengan julukan sang “Peremuk Tulang” semasa menjabat Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel dan memadamkan intifadah Palestina pada tahun 1987.
Meski demikian, Peres berkomitmen melanjutkan “Jalan Rabin” untuk mengupayakan perdamaian. Tantangan besar menghadangnya, terutama menghadapi Partai Likud di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu yang kian populer dan secara konsisten menentang penyerahan wilayah Tepi Barat, Gaza, serta Dataran Tinggi Golan kepada pihak Arab.
Para pengamat dan tokoh Timur Tengah menunjukkan sikap yang beragam dalam melihat babak baru pasca-Rabin. Beberapa meyakini bahwa proses perdamaian tidak dapat dibendung karena merupakan buah dari kelelahan kedua pihak setelah puluhan tahun bertikai. Namun, kebangkitan kelompok radikal kanan Israel dan ancaman pemilu mendatang menjadi variabel krusial yang dapat menjungkirbalikkan stabilitas kawasan.
Apabila kelompok oposisi sayap kanan berhasil mengambil alih pemerintahan, maka impian pembentukan Negara Palestina yang berdaulat secara penuh terancam akan kembali membeku dalam ketidakpastian politik yang berkepanjangan.
NARASUMBER
Yigal Amir – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bar-Ilan, pelaku pembunuhan Yitzhak Rabin.
Avishay Raviv – Pemimpin organisasi radikal kanan Yahudi bernama Eyal.
Thomas L. Friedman – Kolumnis surat kabar The New York Times.
Raja Hussein – Penguasa Yordania.
Bill Clinton – Presiden Amerika Serikat.
Juwono Sudarsono – Pakar politik internasional/Wakil Rektor Universitas Indonesia.
Satrio Arismunandar – Pengamat masalah Timur Tengah.
Ribhi Y. Awad – Duta Besar Palestina untuk Indonesia.
Dore Gold – Seorang analis dari Tel Aviv Jaffee Center for Strategic Studies.
Amos Oz – Novelis yang juga bertindak sebagai juru bicara sayap kiri Israel.
Paul Findley – Penulis buku Deliberate Deceptions.
Rabbi Avraham Hecht – Tokoh Yahudi Ortodoks dari Brooklyn, New York.
Riza Sihbudi – Peneliti LIPI dan pengamat masalah Timur Tengah.
Chalid Mawardi – Mantan Ketua Komisi I DPR (1977-1983) dan Mantan Duta Besar Indonesia untuk Suriah (1984-1988).
DAFTAR ISI
“Akankah Perdamaian Arab-Israel Berlanjut?” (Halaman 20-22)
Artikel utama ini menyoroti situasi berkabung dunia atas kematian Yitzhak Rabin serta memetakan konstelasi penolakan kelompok radikal kanan Yahudi dan faksi radikal Palestina terhadap proses perdamaian Arab-Israel.
“Nasib “Perdamaian” Pasca Rabin” (Halaman 23-25)
Laporan ini mengulas suksesi kepemimpinan Israel ke tangan Shimon Peres serta potensi hambatan politis yang dihadapi dalam mempertahankan komitmen perjanjian damai di tengah ronggohan kelompok oposisi Partai Likud.
“Perginya Sang “Peremuk Tulang”” (Halaman 26)
Kliping halaman ini memuat rekam jejak historis dan karir militer Yitzhak Rabin, mulai dari kiprahnya dalam gerakan bawah tanah Zionis hingga pembentukan citra kerasnya dalam meredam gerakan perlawanan intifadah rakyat Palestina.
“Israel Lawan Israel” (Halaman 27)
Fokus tulisan ini menjabarkan perpecahan internal di kalangan masyarakat Yahudi dengan bangkitnya faksi-faksi ekstrem kanan yang menggunakan legitimasi teologis untuk menghalangi konsesi wilayah kepada otoritas Palestina.
“Perdamaian (Semoga) Terus Berlanjut” (Halaman 28)
Halaman ini menghimpun rangkuman opini, analisis mendalam, serta wawancara khusus dari para diplomat dan pengamat Timur Tengah mengenai proyeksi masa depan kedaulatan Negara Palestina setelah wafatnya Rabin.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





