Keterangan
“Ini bukan organisasi yang tidak kelihatan. Kalau kami dilarang, jangan salahkan kami melanjutkan organisasi yang tidak kelihatan.”
Kliping dari majalah UMMAT yang berjudul “Berebut Label Kebangsaan” ini menyoroti dinamika elit politik menjelang akhir era Orde Baru, ditandai dengan munculnya berbagai organisasi baru maupun “reinkarnasi” dari organisasi politik masa lalu.
Berbagai kelompok ini gencar memperkenalkan diri dengan mengusung panji-panji nasionalisme untuk melakukan reposisi menghadapi potensi perubahan situasi politik domestik dan arus globalisasi. Di antara organisasi yang muncul adalah Yayasan Kerukunan Persaudaraan Kebangsaan dan Persatuan Nasional Indonesia, PCPP di Purwokerto, serta Parkindo yang dikemas ulang menjadi Partisipasi Kristen Indonesia.
Kebangkitan kembali unsur-unsur organisasi lama seperti PNI, Masyumi, dan Parkindo memicu pertanyaan apakah era politik aliran seperti pada tahun 1950-an akan lahir kembali. Sejarah mencatat bahwa Orde Baru sebelumnya telah menerapkan berbagai kebijakan ketat untuk mencegah bertumbuhnya kembali politik aliran.
Langkah-langkah tersebut meliputi konsolidasi posisi kaum priyayi dalam birokrasi, penarikan kaum santri terdidik ke dalam pemerintahan sebagai kompensasi ekonomi, penerapan konsep massa mengambang di pedesaan, hingga penetapan Pancasila sebagai asas tunggal serta pelarangan ideologi Marxisme-Leninisme.
Para pengamat menilai kehadiran figur-figur lama ini memanfaatkan momentum pelonggaran sikap pemerintah terhadap proses demokratisasi. Kendati ada kekhawatiran mengenai kembalinya sektarianisme atau gugatan terhadap dominasi organisasi seperti ICMI, pengamat melihat fenomena ini bukan murni upaya menghidupkan kembali visi ideologis masa lalu yang popularitasnya mulai dipertanyakan.
Sebaliknya, gerakan ini dipandang sebagai strategi para elit untuk mengamankan akses politik dan mendapatkan akomodasi dari negara pasca-1997, dengan menyasar generasi muda sebagai target utamanya.
NARASUMBER
Sabam Sirait (Ketua Umum Parkindo / Partisipasi Kristen Indonesia)
Usep Ranawidjaja (Salah satu tokoh pendiri Persatuan Nasional Indonesia)
Burhan D. Magenda (Akademisi/tokoh yang mengulas kebijakan Orde Baru di majalah Prisma)
Nazaruddin Syamsuddin (Profesor dari FISIP UI dan penulis buku PNI dan Kepolitikannya)
Fachry Ali (Pengamat perkembangan politik Islam)
Aswab Mahasin (Pengamat sosial)
Dahlan Ranuwihardjo (Salah satu tokoh di YKPK dan mantan Ketua Umum PB HMI)
Jeffrey A. Winters (Profesor politik dari Northwestern University, Amerika Serikat)
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





