Keterangan
“Djadji pokok dalam menentukan masuk tidaknja sebuah tjiptaan kedalam kebudajaan adalah pertanjaan, manusia bukannja jang mentjiptanja.”
“Kita tidak perlu meminum piala Barat hingga kedasarnja… Kita harus tahu membedakan. Dan kita harus tahu memilih.”
Kliping ini adalah esai filosofis mendalam karya Mh. Rustandi Kartakusuma berjudul “Manusia dan Kebudayaan”, yang dimuat dalam majalah Indonesia (Maret 1951). Artikel ini membedah hakikat penciptaan, posisi manusia dalam alam semesta, serta dialektika kebudayaan Indonesia di tengah pengaruh Barat dan Timur.
Rustandi membuka narasinya dengan kosmologi penciptaan yang memadukan konsep religius dan filosofis (Kun Fajakun dan Homo Ludens). Ia membedakan antara Sang Pencipta (Chalik) yang menciptakan sesuatu dari ketiadaan (nihilum), dengan manusia (chalikah) yang hanya bisa menciptakan dari bahan yang sudah tersedia. Kebudayaan, dalam pandangan penulis, adalah hasil ciptaan manusia yang disebut sebagai Crown of Creation. Namun, daya cipta manusia terbatas pada hukum alam seperti kekekalan zat dan energi.
Penulis menekankan bahwa kebudayaan yang sejati lahir dari penggunaan akal synthesis, bukan sekadar akal analisis. Akal analisis cenderung memecah-belah dan membedakan (identik dengan kecenderungan Barat yang spesialis), sedangkan akal synthesis mencari kesatuan dan harmoni (identik dengan kecenderungan Timur yang universalis). Bagi Rustandi, puncak kemanusiaan bukan pada akal semata, melainkan pada intuisi dan batin yang membawa manusia menuju kesadaran keesaan atau “Manusia Ideal”.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, penulis menyoroti kegelisahan bangsa yang terjepit di antara dua kekuatan: kebudayaan Barat yang modern-teknologis dan kebudayaan warisan leluhur (Modjopahitisme/mistik). Ia mengkritik kelompok yang menolak Barat secara mentah-mentah maupun yang memuja Barat secara membabi buta. Baginya, kebudayaan Barat tidak bisa dielakkan karena sudah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Solusi yang ditawarkan bukanlah memilih salah satu, melainkan kemampuan untuk memilih dan membedakan.
Kebudayaan Indonesia masa depan haruslah “Kebudayaan Ideal” yang mampu menyerap unsur Barat (seperti teknik dan sains) tanpa kehilangan akar kedjiwaan warisan leluhur (Philosophia Perennis). Manusia Indonesia harus menjadi subjek yang arif; yang mampu menggunakan “biola” Barat untuk memainkan lagu dengan jiwa Indonesia, atau menggunakan akal untuk mencapai “Petundjuk Langit”.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





