FIlm Seri TVRI: Penjahat Tidak Boleh Menang

Rp 8.000,00

Penulis: –
Media: ZAMAN
Tahun: 1983, 7 Mei, No.32/IV
Halaman: 24-26
Ukuran: 32 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9559 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Film seri yang mana? Saya tak pernah meloloskan film yang memenangkan penjahat. Kalau sudah disensor penjahat masih bisa meniru, kenapa polisi tidak?”Ispoerdanto 

Kliping berjudul “Di TV Penjahat Tidak Boleh Menang” yang diterbitkan oleh majalah Zaman pada 7 Mei 1983 ini mengulas balik layar pengelolaan, sensor, dan tantangan penyiaran film seri impor di TVRI. Sebagai satu-satunya stasiun televisi nasional saat itu, TVRI memikul tanggung jawab besar dalam menyeleksi konten visual yang disuguhkan kepada jutaan pemirsa di Indonesia.

Proses pengadaan film seri di TVRI dilakukan melalui sistem sewa kontrak serta Cycling Sistem antar-negara anggota Asian Pasific Broadcast Union demi menekan biaya. Sebelum sebuah film dapat ditayangkan, tim TVRI yang dipimpin oleh Alex Leo (Kepala Stasiun Pusat Jakarta) dan R.M. Sunarto (Kepala Sub-Direktorat Siaran TVRI) harus meneliti contoh film yang dikirimkan oleh agen-agen internasional. Kriteria seleksi utama yang diterapkan meliputi pelarangan terhadap unsur kekerasan yang berlebihan, pornografi, serta hal-hal yang menyinggung SARA.

Setelah lolos kriteria awal tersebut, film-film seri harus melalui sensor resmi di Badan Sensor Film (BSF). Namun, penyaringan tidak berhenti di sana. Di dalam internal Kepustakaan Film TVRI, sebuah tahapan sensor mandiri yang dipimpin langsung oleh Ispoerdanto selaku Kepala Sub-Urusan Kepustakaan Film kembali dilakukan secara ketat. Adegan-adegan yang dinilai porno, ciuman non-mukrim, kekerasan sadis secara langsung, hingga tayangan yang mendegradasi wibawa aparat kepolisian didepak dari daftar tayang. Akibat pengetatan ini, beberapa episode dari serial populer seperti Hawaii Five-O, The Avengers, BJ and The Bear, hingga The Happy Days terpaksa dipotong, dikembalikan, atau bahkan batal ditayangkan sama sekali.

Selain kendala ketatnya sensor, kepustakaan TVRI juga kerap menghadapi problem teknis operasional. Mulai dari keterlambatan pengiriman materi film akibat kendala distribusi Cycling Sistem, keterbatasan waktu pembuatan teks dialog sehingga terpaksa diganti narasi, hingga kacaunya urutan rol film yang dikirimkan oleh agen. Meski menghadapi berbagai dinamika eksternal dan kritik masyarakat terkait dampak tayangan terhadap kriminalitas, TVRI secara tegas berkomitmen menjaga integritas siarannya demi mencerminkan nilai moral bangsa.

NARASUMBER

Ispoerdanto – Kepala Sub-Urusan Kepustakaan Film TVRI (bertanggung jawab langsung atas penyaringan akhir, sensor internal, dan penyusunan urutan film seri).

R.M. Sunarto – Kepala Sub-Direktorat Siaran TVRI (memberikan keterangan mengenai kebijakan anggaran, kriteria pemilihan film, serta orientasi kepenontonan masyarakat Indonesia).

Alex Leo – Kepala Stasiun Pusat Jakarta TVRI (bersama tim menetapkan seleksi awal contoh film dari agen).

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.