Esai Riza Sihbudi: KTT Amman dan “Jalan Rabin”

Rp 5.000,00

Penulis: Riza Sihbudi
Media: UMMAT
Tahun: 1995, 27 November, No.11 Th.I
Halaman: 69
Ukuran: 2,7 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9579 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Stabilitas politik regional hanya bisa tercapai jika ada perdamaian yang adil dan komprehensif. Dan ini sangat tergantung pada kemauan politik para pemuka Israel pasca-Rabin, serta—tentu saja—pihak Gedung Putih, sebagai sponsor utama proses perdamaian Arab-Israel.”

Kliping ini merupakan kolom perspektif tulisan Riza Sihbudi di majalah UMMAT No. 11 Thn. I, 27 November 1995/4 Rajab 1416 H yang berjudul “KTT Amman dan ‘Jalan Rabin’”. Isinya mengulas tentang antusiasme dan kepentingan domestik Yordania dalam menyelenggarakan the MENA (Middle East and North Africa) Economic Summit atau KTT Ekonomi Negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara di Amman pada 29–31 Oktober 1995. KTT ini merupakan kelanjutan dari pertemuan serupa di Casablanca, Maroko, pada tahun 1994, yang dihadiri oleh perwakilan negara-negara Arab, Israel, Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa, serta negara Asia termasuk Jepang dan Indonesia.

Bagi Raja Hussein bin Talal, KTT Amman sangat penting untuk mewujudkan obsesinya menjadikan Yordania sebagai “Singapura”-nya Timur Tengah. Pasca-penandatanganan perjanjian damai dengan Israel, Hussein ingin negaranya tumbuh menjadi pusat ekonomi, bisnis, dan keuangan regional. Langkah taktis yang diambil antara lain membuka jalur penerbangan Royal Jordanian Airlines ke seluruh penjuru dunia dan menjadikan Queen Alia International Airport sebagai bandara transit utama di kawasan tersebut. Di sisi lain, Yordania tetap menjaga perimbangan politik luar negeri dengan mempertahankan hubungan baik bersama rezim Bagdad dan mengusulkan keterlibatan Irak serta Iran dalam kerja sama regional.

Meskipun bertajuk ekonomi, KTT Amman sarat akan muatan politik, terutama karena adanya boikot dari Suriah dan Lebanon, serta perdebatan sengit antara PLO dan Israel mengenai status kota suci al-Quds Yerusalem. KTT ini berhasil menelurkan sejumlah kesepakatan konkrit seperti pembentukan bank pembangunan regional di Kairo, dewan wisata, dan dewan pengusaha regional. Namun, dampak konkrit KTT ini terhadap ekonomi-politik Timur Tengah menjadi tidak menentu akibat pembunuhan PM Yitzhak Rabin pada 4 November 1995. Masa depan “Jalan Rabin” menjadi penuh ketidakpastian di bawah kepemimpinan baru Shimon Peres, terlebih dengan ancaman bayang-bayang Partai Likud pimpinan Bhenyamin Netyanyahu yang menolak keras proses perdamaian tersebut. Keberhasilan pembangunan ekonomi regional pada akhirnya tetap bertumpu pada stabilitas politik dan perdamaian jangka panjang.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.