Profil Trisutji Djuliati Kamal: Menjelajah Estetika, Mengabdi Hakikat

Rp 15.000,00

Penulis: Tulus Widjanarko, Zainal Abidin
Media: UMMAT
Tahun: 1995, 27 November, No.11 Th.I
Halaman: 90-92
Ukuran: 5 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 20

SKU: KL_9578 Kategori: Label , ,

Keterangan

“Saya hanyalah alat: DIA-lah yang menggerakkan. Saya ‘hilang’ dalam proses kreatif saya. Yang ada hanyalah kehendak Allah SWT…”

Kliping majalah UMMAT nomor 11 tahun I tanggal 27 November 1995 memuat profil Trisutji Djuliati Kamal, seorang komponis musik kontemporer terkemuka Indonesia. Perjalanan spiritualitas Islam Trisutji tertoreh mendalam sejak kumandang azan Ashar di Jakarta pada tahun 1974 menyapa jiwanya. Peristiwa tersebut menjadi point of return yang menggerakkan naluri musikalnya untuk melahirkan komposisi religius pertama berjudul Tembang. Sejak saat itu, ia konsisten menggali kebenaran Islam dan menuangkannya ke dalam karya-karya musik yang kemudian ditampilkan di Festival Istiqlal II.

Trisutji lahir pada 28 November 1936 dari keluarga pencinta seni berdarah ningrat Javanese-Sumatra. Bakat seninya mengalir dari sang ayah yang mahir menggesek biola, serta pengaruh budaya Jawa yang kuat dari ibunya. Ia menyelesaikan pendidikan HBS di Medan pada 1955 sebelum bertolak ke Eropa untuk mendalami ilmu musik di Amsterdam Conservatory, Ecole Normale de Musique, dan berguru di Conservatorio Santa Cecilia Roma hingga lulus tahun 1965.

Eksplorasi estetikanya memadukan musik klasik barat dengan keunikan pentatonis gamelan Jawa, Sunda, dan Bali. Lebih dari 200 komposisi telah ia ciptakan, yang sarat akan kontemplasi religius. Beberapa karya pentingnya meliputi Lakon (1982), Ramadhan (1984)—yang disebut kritikus Franki Raden sebagai karya kontemplatif-meditatif—serta Malam Takbir, Zikir, Wukuf di Arafah, dan Dialog Untuk Dua Piano dan Perkusi Bali (1994) yang terinspirasi dari puisi Emha Ainun Nadjib.

Bagi istri pengusaha rotan ini, musik adalah wujud ibadah dan rasa syukur atas karunia Allah SWT. Pengalaman batiniahnya kian mengental pasca-menunaikan ibadah haji pada 1991. Dalam kesadaran religiusnya, ia melepas teknik penciptaan demi mengekspresikan kedalaman batin. Di akhir masa pencariannya yang terekam dalam kliping ini, ia tengah meneliti kemungkinan menjadikan tajwid sebagai inspirasi pengolahan nada-nada musiknya. Melalui musik kontemporer, Trisutji berhasil menjelajah estetika sekaligus mengabdi pada hakikat penciptanya.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.