Kampanye Pemilu Makin Brutal dan Dilema Mega-Bintang

Rp 50.000,00

Penulis: Deden Setiawan, Muchlis Ainurrafik
Media: PARON
Tahun: 1997, 24 Mei
Halaman: 4-9
Ukuran: 25,3 MB

  • Versi Produksi: Digital/PDF

Stok 19

SKU: KL_9393 Kategori: Label , , , ,

Keterangan

Sekumpulan kliping ini menyoroti situasi kampanye Pemilu 1997 yang semakin anarkis dan berdarah. Bentrokan fisik antara massa pendukung organisasi peserta pemilu (OPP)—terutama antara PPP dan Golkar—serta gesekan dengan aparat keamanan meluas di berbagai wilayah seperti Jakarta (Ciracas, Matraman, Senayan), Solo, Yogyakarta, hingga Temanggung.

Insiden perusakan kantor polisi, pembakaran simbol partai, hingga jatuhnya korban jiwa menandai “brutalitas” pesta demokrasi saat itu.

Yang jadi sorotan utama juga adalah fenomena “Mega-Bintang”, yakni aliansi akar rumput antara massa PDI pendukung Megawati dengan PPP. Meski aliansi ini meningkatkan gairah oposisi, pemerintah secara resmi melarang penggunaan atribut “Mega-Bintang”.

Di sisi lain, internal PPP mengalami dilema; Ismail Hasan Metareum (Buya Ismail) merasa tertekan karena dituduh berkoalisi dengan kekuatan radikal untuk menggulingkan pemerintah.

Sementara di lapangan, massa terus memproklamirkan kerja sama tersebut. Koalisi ini dinilai sebagai “bumerang” yang bisa merugikan posisi politik PPP di mata penguasa.

Daftar Kliping:

1. Kampanye Makin Brutal ~ 4-5

2. Wawancara Brigjen TNI Slamet Supriadi: Ada Kelompok Bondomaling ~ 6

3. Wawancara Muhammad AS Hikam: Tak Punya Jalan Lain ~ 6

4. Usamah Hisyam: Pemilu Hanya Momentum ~ 7

5. Din Syamsuddin: Bukan Ketidakpuasan ~ 7

6. Buttu R. Hutapea: OPP Tak Menganjurkan ~ 7

7. Bumerang Mega-Bintang ~ 8-9

Narasumber:

Ismail Hasan Metareum (Ketua Umum PPP): Menanggapi tuduhan selebaran gelap dan menegaskan tidak ada koalisi formal dengan Megawati.

Moedrick M. Sangidoe (Ketua DPC PPP Solo): Motor penggerak fenomena Mega-Bintang yang tetap bersikukuh menjalankan aksi tersebut di lapangan.

Agung Laksono (Ketua DPP Golkar): Memberikan kritik bahwa fenomena Mega-Bintang justru memicu provokasi dan kekerasan di jalanan.

Roy B.B. Janis (Ketua DPD PDI DKI Pro-Mega): Membela massa pendukungnya dan menyatakan bahwa ekspresi mereka adalah bentuk semangat, bukan radikalisme.

Letjen Syarwan Hamid (Kasospol ABRI): Memberikan peringatan tegas mengenai pelarangan atribut Mega-Bintang.

Singgih (Ketua Panwaslak Pusat): Menekankan penegakan hukum bagi pelaku kerusuhan kampanye.

Brigjen TNI Slamet Supriadi (Kapuspen ABRI): Memberikan analisis mengenai keterlibatan kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi.

Sudomo (Ketua DPA): Menilai strategi PPP dan melihat risiko politik dari aliansi tersebut.

Bachtiar Effendi & Cornelis Lay: Pengamat politik yang memberikan perspektif akademis mengenai dampak koalisi bagi masa depan PPP.

CATATAN:

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.