Keterangan
“Setelah selesai, saya disuruh masuk ke dalam lubang, disuruh telentang. Lalu, mereka menimbun saya hidup-hidup. Tanahnya diinjak-injak… Untung timbunan tanah di bagian kepala tidak diinjak dan tidak rapat, sehingga saya masih bisa bernapas.” — Tengku Abdurrahman (Korban yang selamat dari eksekusi)
Laporan khusus ini mengungkap tabir kelam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) selama masa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh (1989-1998). Kedatangan Tim Pencari Fakta (TPF) DPR-RI menjadi katalisator bagi warga Aceh untuk menyuarakan penderitaan yang selama tujuh tahun dipendam akibat trauma dan represi militer. Artikel ini merinci berbagai bentuk kekejaman, mulai dari penculikan, penyiksaan di tempat-tempat seperti “Rumah Geudong”, hingga eksekusi massal di depan publik.
Dua fenomena tragis yang disorot adalah keberadaan “Bukit Tengkorak” (lokasi pembuangan mayat) dan “Kampung Janda”, wilayah yang kehilangan populasi laki-lakinya karena tewas dibunuh atau hilang diculik karena dituduh sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Berdasarkan data berbagai lembaga, tercatat sedikitnya 1.654 orang hilang dan 600 perempuan menjadi korban kekerasan seksual oleh oknum aparat.
Kesaksian personal memperkuat narasi horor ini; seperti kisah Tengku Abdurrahman yang dikubur hidup-hidup namun berhasil selamat, serta SH dan CS yang mengalami pemerkosaan dan penyiksaan fisik.
Meskipun militer melalui beberapa pejabatnya sempat membantah adanya eksekusi tanpa peradilan, bukti lapangan dan pengakuan massal warga yang histeris saat bertemu TPF DPR-RI tidak dapat dibantah lagi.
Laporan ini menjadi catatan hitam sejarah Indonesia sekaligus tuntutan keras masyarakat Aceh agar status DOM dicabut dan keadilan ditegakkan bagi para korban.
NARASUMBER
Korban/Saksi Warga:
Tengku Abdurrahman (70 thn): Warga Geulumpang Tiga, saksi sekaligus korban penyiksaan yang selamat setelah dikubur hidup-hidup.
Ibrahim (32 thn): Warga Sawang, saksi penyiksaan di Jurang Cot Panglima.
SH (32 thn): Warga Desa Dayah Teumanah, korban pemerkosaan oknum Batalyon.
CS (42 thn): Warga Ujong Leubat, korban pemerkosaan berulang di pos militer.
Sudarni: Warga Desa Rambong, melaporkan hilangnya suami.
Ramlah: Warga Simpang Jurong, saksi eksekusi suami dan empat anaknya.
Khatijah: Warga Cot Baroh, korban penyiksaan.
Nyak Ubit & Aminah Ali: Warga Mutiara, melaporkan suami yang hilang.
Pejabat & Tokoh Masyarakat:
Hari Sabarno: Ketua Fraksi ABRI dan Ketua TPF DPR-RI.
Syamsuddin Mahmud: Gubernur Aceh (saat itu) yang meminta pencabutan status DOM.
Teuku Djohan: Ketua DPRD Aceh yang meminta penarikan pasukan Kopassus.
Ibrahim Hasan: Mantan Gubernur Aceh yang awalnya mengundang bantuan pasukan dari Jakarta.
M. Taufik Abdah: Koordinator KARMA (Komite Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh).
Pihak Militer (Kutipan/Bantahan):
Letkol Achmad Soedjai: Kapendam I/Bukit Barisan.
Brigjen Nurhadi: Kepala Pusat Penerangan ABRI.
DAFTAR KLIPING
Ditemukan: Bukit Tengkorak dan Kampung Janda | Laporan utama mengenai pengakuan warga Aceh kepada TPF DPR-RI terkait pembantaian dan fenomena kampung yang kehilangan kaum lelaki | 48-49
Laporan Orang Hilang di Aceh (1989-1998) | Tabel data statistik jumlah kasus orang hilang yang dilaporkan ke berbagai lembaga bantuan hukum dan kantor pemerintahan | 48
GAM: dari Hasan Tiro hingga Tengku Serawak | Menelusuri sejarah pergerakan GAM, profil Hasan Tiro, serta dampak operasi militer terhadap warga sipil yang dituduh terlibat | 50
Lembaran Hitam di Serambi Mekah | Kumpulan kesaksian mengerikan dari para penyintas mengenai penyiksaan di “Rumah Geudong” dan eksekusi massal di lapangan bola | 51-53
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





