Keterangan
Dokumen kliping ini membahas kontroversi pembentukan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) untuk memeriksa Letnan Jenderal Prabowo Subianto terkait kasus penculikan aktivis pro-demokrasi.
Keputusan Panglima ABRI Jenderal Wiranto membentuk DKP—alih-alih langsung membawa kasus ini ke mahkamah militer—menuai kritik. Banyak pihak, termasuk Munir (Koordinator KontraS) dan Letjen (Purn) Hasnan Habib, menilai penculikan dan penyiksaan adalah tindak pidana munas murni yang harus diselesaikan di pengadilan terbuka, bukan sekadar pelanggaran etika di ruang tertutup.
Dokumen kliping juga mengulas perjalanan karier Prabowo yang cemerlang namun kontroversial. Sebagai menantu Presiden Soeharto, kenaikan pangkatnya dinilai luar biasa cepat, meski ia juga diakui memiliki intelektualitas tinggi dan fasih berbagai bahasa asing.
Namun, menjelang jatuhnya Orde Baru, posisi Prabowo mulai goyah. Ia dirumorkan terlibat dalam persaingan sengit dengan Jenderal Wiranto dan dituduh melakukan inisiatif sendiri tanpa koordinasi pimpinan (insubordinasi).
Di titik nadirnya, Prabowo merasa dikhianati dan diasingkan, menyamakan dirinya dengan tokoh tragedi Shakespeare, King Lear. Ia merasa paling loyal namun justru dituduh hendak melakukan kudeta.
Meskipun Prabowo menyatakan siap bertanggung jawab, publik tetap menuntut transparansi hukum. DKP dipandang sebagai ujian bagi kredibilitas ABRI: apakah lembaga ini berani menegakkan hukum secara adil atau sekadar menjadi alat untuk melindungi perwira tinggi dari tuntutan pidana yang lebih berat.
NARASUMBER
Jenderal Wiranto: Panglima ABRI (yang mengumumkan pembentukan DKP).
Munir: Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS).
Letnan Jenderal (Purn.) Hasnan Habib: Pengamat militer/mantan diplomat.
Letnan Jenderal Agum Gumelar: Anggota DKP dan mantan Komandan pasukan elite.
Letnan Jenderal Prabowo Subianto: Mantan Danjen Kopassus/Pangkostrad (subjek utama, dikutip dari pernyataan sebelumnya).
Jenderal Feisal Tanjung: Mantan Panglima ABRI/Menko Polkam.
Margaret Scott: Wartawan Amerika (The New York Review of Books) yang pernah mewawancarai/bercakap dengan Prabowo.
Sjamsudin: Mantan anggota Kopassus dan anggota Komnas HAM.
DAFTAR KLIPING
Halaman 21: Maaf, Sir, Kenapa ke DKP Dulu? | Artikel utama yang mempertanyakan mengapa para perwira tinggi yang terlibat penculikan diperiksa oleh dewan kehormatan internal, bukan langsung ke mahkamah militer.
Halaman 22-25: Ia Merasa bagaikan Putra King Lear | Profil psikologis dan posisi politik Prabowo pasca-pencopotan jabatannya, di mana ia merasa menjadi korban pengkhianatan meski merasa telah setia.
Halaman 26: Herman Davao nan Misterius.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





