Keterangan
“Harapan saya enggak banyak. Saya cuma ingin tahu keberadaan anak saya. Kalau memang ia bersalah, saya meminta supaya diadili secara hukum. Tapi, jangan main umpet-umpetan seperti ini. Bikin hati saya resah.” — Ny. Ma’rufah (Ibu Faisal Reza, mahasiswa UGM)
Laporan ini mengangkat isu krusial mengenai maraknya penculikan aktivis pro-demokrasi menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Fokus utama reportase adalah hilangnya sejumlah tokoh pemuda dan mahasiswa seperti Pius Lustrilanang (yang sempat kembali), Andi Arief, Desmond J. Mahesa, hingga Haryanto Taslam.
Dalam kliping ini tergambar pola penculikan yang sistematis: korban dipantau oleh orang tak dikenal, disergap di tempat umum atau rumah, lalu dibawa menggunakan kendaraan (seringkali jenis Kijang) ke lokasi interogasi rahasia.
Narasi dalam laporan ini membedah ketegangan antara kesaksian keluarga korban dengan bantahan resmi dari pihak militer. Kapuspen ABRI saat itu, Brigjen Abdul Wahab Mokodongan, membantah keterlibatan militer dan justru menyebut isu penculikan ini sebagai bagian dari rekayasa politik untuk memojokkan pemerintah.
Namun, kesaksian korban yang selamat seperti Hendrik Dikson Sirait mengungkap realitas kelam berupa penyiksaan fisik dan penyetruman selama masa penahanan ilegal.
Selain kasus tahun 1998, laporan jurnalistik ini juga memberikan perspektif historis bahwa fenomena “orang hilang” bukanlah hal baru. Tersebutlah rangkaian tragedi masa lalu seperti peristiwa Tanjung Priok (1984), Insiden Santa Cruz di Timor Timur (1991), Peristiwa 27 Juli (1996), hingga kerusuhan etnis di Sangauledo dan Banjarmasin (1997).
Dokumen kliping ditutup dengan pesan moral yang mendalam mengenai tanggung jawab negara dalam melindungi hak hidup warga negaranya sesuai konstitusi, di tengah duka keluarga yang terus menanti kepastian tanpa ujung.
NARASUMBER:
Pihak Keluarga:
Ny. Fransisca Sri Haryatni (Ibu Pius Lustrilanang)
Ny. Ani Agustina (Istri Haryanto Taslam)
Ny. Hj. Ma’rufah (Ibu Faisal Reza)
Ny. Saadilah (Ibu Sukaryono/Korban Tanjung Priok)
Pak Aam (Ayah Edy/Korban Tanjung Priok)
Aktivis/Korban Selamat
Pius Lustrilanang (Sekjen Aldera)
Hendrik Dikson Sirait (Aktivis Aldera/korban selamat)
Munir (Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI)
Pejabat ABRI/Pemerintah
Brigjen Abdul Wahab Mokodongan (Kapuspen ABRI)
Brigjen Da’i Bachtiar (Kadispen Polri)
Jenderal Try Sutrisno (Mantan Panglima ABRI – terkait insiden masa lalu)
Pakar/Pengamat/Anggota Komisi:
Yusril Ihza Mahendra (Pakar Hukum Tata Negara UI)
Albert Hasibuan (Anggota Komnas HAM)
Clementino dos Reis Amaral (Anggota Komnas HAM)
Prof. Dimyati Hartono (Pakar Hukum)
Tokoh Politik
Roy B.B. Janis (Ketua DPD PDI Jakarta)
DAFTAR KLIPING
Di Negara Merdeka, Mereka “Hilang” | Laporan utama mengenai kronologi penculikan aktivis 1998 dan daftar mahasiswa yang dilaporkan hilang | 16-17
Mimpi Buruk Hendrik | Kesaksian mendalam Hendrik Dikson Sirait tentang penyiksaan yang dialaminya saat ditahan secara ilegal | 18
Yang Pasrah, Berharap, dan yang Gembira | Kumpulan kisah humanis dan jeritan hati para ibu serta istri dari aktivis yang hilang diculik | 19-20
Duka nan Tak Kunjung Padam | Rekapitulasi jumlah korban hilang dari berbagai peristiwa tragis (Tanjung Priok, Santa Cruz, 27 Juli) | 21-22
CATATAN:
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





