Keterangan
“KGB itu bukan sekadar eks-PKI. Bukan sekadar paham marxisme-leninisme… Tapi KGB di Indonesia, menurut saya, secara filosofis berpaham dialektika-pragmatisme.” — Prof. Dr. Suhardiman, S.E.
“Pemerintah tidak percaya bahwa (OTB-KGB) itu ada, dan percaya bahwa masyarakat juga tidak percaya, tapi mereka memang senang main-main.” — Dr. Ariel Heryanto.
Kliping ini adalah laporan utama majalah TIRAS, sebuah kliping yang menyoroti kegaduhan politik di Indonesia pada akhir tahun 1995 mengenai isu kebangkitan “Komunisme Gaya Baru” (KGB) dan munculnya “Organisasi Tanpa Bentuk” (OTB). Isu ini pertama kali dilontarkan ke publik oleh Presiden Soeharto dan kemudian diperluas oleh tokoh politik Prof. Dr. Suhardiman, S.E. Suhardiman mengeklaim bahwa elemen-elemen KGB telah menyusup ke berbagai struktur kekuasaan, mulai dari birokrasi, DPR, MA, hingga lembaga strategis lainnya. Ia bahkan mengusulkan dilakukannya “litsus” (penelitian khusus) ulang bagi para pejabat pemerintah untuk menyaring pengaruh ekstrim kiri maupun kanan.
Wacana ini memicu polemik luas. Di satu sisi, aparat keamanan dan pejabat Orde Baru seperti Menko Polkam Soesilo Soedarman dan Kasum ABRI Letjen Soeyono mendukung perlunya kewaspadaan terhadap gerakan bawah tanah yang dianggap mendalangi berbagai kerusuhan dan aksi massa. Nama-nama tokoh kritis seperti Pramoedya Ananta Toer, Adnan Buyung Nasution, hingga George Aditjondro sempat dikaitkan dengan klasifikasi OTB ini.
Di sisi lain, para pengamat politik dan aktivis pro-demokrasi melihat isu ini sebagai upaya pengalihan isu atau alat untuk mendiskreditkan lawan politik menjelang Pemilu 1997. Sosiolog Ariel Heryanto berpendapat bahwa pemerintah mungkin sedang “bermain-main” dengan isu hantu komunis untuk menutupi persoalan nyata seperti kesenjangan sosial, stagnasi kesejahteraan, dan praktik korporatisme negara yang hanya menguntungkan elite ekonomi. Kritik juga datang dari anggota DPR yang menilai litsus ulang justru dapat menciptakan instabilitas dan rasa saling tidak percaya di tengah masyarakat. Secara substansial, artikel ini menggambarkan bagaimana stigma “kiri” kembali digunakan sebagai instrumen kontrol politik di masa akhir kekuasaan Orde Baru.
Di kliping ini juga disertai wawancara khusus Kepala Badan Intelijen Koordinasi Nasional (Kabakin), Letjen (TNI) Soedibjo. Wawancara ini menyoroti pandangan Letjen Soedibjo mengenai isu kebangkitan ideologi kiri yang saat itu marak dengan istilah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) dan Komunisme Gaya Baru (KGB).
Soedibjo menjelaskan bahwa meskipun PKI secara struktur telah hancur sejak 1968, residu pemikirannya tetap hidup melalui strategi “Kritik dan Otokritik”. Strategi ini memungkinkan eks-kader bergerak secara individual namun memiliki kesamaan pola pikir untuk menyusup ke berbagai organisasi, termasuk LSM, guna memicu keresahan sosial melalui tuntutan-tuntutan yang tidak logis.
Menurut Bakin, ancaman saat ini tidak hanya datang dari ekstrem kiri, tetapi juga ekstrem kanan dan pengaruh luar negeri. Ia menengarai adanya aktivis yang bersimpati pada filsafat Marxisme-Leninisme yang telah bermodifikasi menjadi gerakan yang lebih canggih, seperti menggunakan isu keadilan sosial dan kerakyatan sebagai “pisau analisa”. Meski demikian, Soedibjo menegaskan bahwa Bakin belum menemukan bukti otentik mengenai istilah KGB yang dilansir oleh beberapa tokoh politik saat itu.
Terkait kebijakan keamanan, Soedibjo menyatakan bahwa program Penelitian Khusus (Litsus) tidak perlu dilakukan secara besar-besaran atau melalui program khusus yang baru. Baginya, Litsus tetap relevan namun harus dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan fungsional saja. Di sisi lain, ia juga menanggapi isu kesenjangan sosial dan gesekan antargolongan, seperti kasus di Timor Timur dan masalah pribumi-nonpribumi, yang ia nilai sebagai potensi konflik yang harus terus diredam melalui dialog dan penanganan struktural agar tidak menjadi api dalam sekam menjelang Pemilu 1997. Secara keseluruhan, Bakin memandang situasi nasional masih terkendali meski kewaspadaan terhadap “penyimpangan sejarah” tetap harus dijaga.
NARASUMBER
Soeharto (Presiden RI)
Prof. Dr. Suhardiman, S.E. (Wakil Ketua DPA/Politisi Golkar)
Soesilo Soedarman (Menko Polkam)
Letjen (TNI) Soeyono (Kasum ABRI)
Wahono (Ketua DPR/MPR)
Harmoko (Menteri Penerangan/Ketua Umum Golkar)
Jenderal Hartono (KSAD)
Mayjen Dibyo Widodo (Kapolda Metro Jaya)
Agung Laksono (Sekjen Kosgoro/Anggota DPR)
Brigjen (TNI) Suwarno Adiwijoyo (Kapuspen ABRI)
Letjen (TNI) Soedibjo (Kepala Badan Intelijen Koordinasi Nasional, Kabakin)
Oetojo Oesman (Menteri Kehakiman/Ketua BP7)
Royani Aminullah (Anggota F-PDI DPR RI)
Marcel Beding (Anggota F-PDI DPR RI)
Dr. Ariel Heryanto (Sosiolog Universitas Kristen Satya Wacana)
Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin (Guru Besar FISIP UI)
Dr. Amir Santoso (Pengamat Politik UI)
Harun Alrasid (Guru Besar Hukum Tata Negara FH UI)
Idrus F. Shahab (Penulis artikel opini/sejarah)
Mayjen (TNI) Syarwan Hamid (Assospol Kassospol ABRI)
Kastorius Sinaga (Sosiolog/Penulis Analisa Berita)
Mochtar Pakpahan (Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera Indonesia – SBSI)
Prof. Dr. Harun Alrasid (Guru Besar Hukum Tata Negara FH UI)
Abdul Hakim G. Nusantara, S.H., L.L.M. (Direktur Eksekutif ELSAM)
Mulyana W. Kusumah (Direktur Eksekutif YLBHI)
Joseph McCarthy (Senator AS – subjek sejarah yang dikutip metodenya)
Audrey R. Kahin & George McT. Kahin (Penulis buku Subversion As Foreign Policy yang dikutip)
DAFTAR ISI KLIPING
OTB dan Kisah Persemaian Nyamuk (Hal. 19-20). Analisis mengenai latar belakang munculnya isu OTB dan KGB sebagai dampak dari kesenjangan sosial dan kebijakan ekonomi yang terlalu memihak elite.
Menjaring OTB dan KGB dengan Angin (Hal. 20-21). Laporan mengenai peringatan pemerintah dan ABRI terhadap gerakan ekstrim kiri dan kanan yang dianggap mulai menyusup ke lembaga negara.
Wawancara Suhardiman: “Saya Nggak Jadi Potong Jari” (Hal. 22-23). Wawancara khusus dengan Suhardiman mengenai ramalannya tentang kebangkitan komunisme gaya baru dan argumennya mengenai ancaman stabilitas nasional.
Litsus Ulang dan “Hantu” Baru (Hal. 25-26). Pembahasan mengenai kontroversi usulan penelitian khusus (litsus) ulang bagi pejabat dan bagaimana mekanisme tersebut sering dianggap tidak adil bagi korban stigma politik.
Ketika McCarthy Membakar Amerika (Hal. 27-28). Artikel ini mengulas sejarah kelam “McCarthyisme” di Amerika Serikat tahun 1950-an sebagai komparasi terhadap fenomena perburuan “hantu komunis” yang sedang terjadi di Indonesia.
KGB dan Krisis Ideologi (Hal. 28-29). Sebuah analisis berita yang menyoroti bahwa kemunculan isu KGB merupakan cerminan dari krisis ideologi dan kegagalan negara dalam memberikan rasa keadilan sosial bagi masyarakat bawah.
Propaganda Cari Simpati (Hal. 30). Ringkasan makalah Mayjen Syarwan Hamid yang memaparkan analisis intelijen mengenai strategi “propaganda damai” dan metamorfosis gerakan kiri dalam berbagai bentuk organisasi.
Yang Perlu, Membuka Komunikasi Politik (Hal. 30-31). Kumpulan opini dari para aktivis hukum dan pejuang HAM (Mochtar Pakpahan, Harun Alrasid, dkk) yang mengkritik penggunaan istilah OTB/KGB dan mendesak pemerintah untuk lebih mengedepankan dialog daripada stigma.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





