Wawancara Mayjen (Purn) Suwarno Adiwijoyo: Sebaiknya yang Radikal Digembosi, bukan Diculik

Rp 10.000,00

Penulis: Asep Nurzaman
Media: ADIL
Tahun: 1998, 25 November-1 Desember, No.06, Thn.67
Halaman: 15
Ukuran: 43,5 MB

Stok 20

SKU: KL_9589 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Bila terjadi perbedaan visi dan interpretasi, teknisnya harus dilakukan dialog, atau istilah kasarnya dilakukan ‘penggembosan’. Yang radikal-radikal di kalangan mahasiswa dan lain-lain, harus terus digalang, bukan diculik.”

Dalam kliping wawancara berjudul “Sebaiknya yang Radikal Digembosi, bukan Diculik” yang diterbitkan oleh Tabloid Berita Minggu ADIL edisi 25 November – 1 Desember 1998, Mayjen (Purn.) Suwarno Adiwijoyo menyampaikan pandangannya terkait dinamika politik dan penanganan aksi mahasiswa pasca-Reformasi.

Ia menegaskan keutamaan pendekatan persuasif dan dialogis yang seharusnya diambil oleh aparat keamanan dalam menghadapi gerakan pro-demokrasi ketimbang tindakan represif.

Kliping ini mencatat bahwa Suwarno Adiwijoyo merupakan purnawirawan militer kelahiran Banyuwangi, 21 April 1942, lulusan AMN tahun 1966, yang pernah menjabat sebagai Danram Wirapraja/Sumbar, Kasdam III/Siliwangi, Kapuspen ABRI, serta Assospol ABRI.

Ia dikenal sebagai figur jenderal moderat yang berada di tengah-tengah kelompok ‘hijau’ dan ‘merah putih’, serta memilih bergabung sebagai Anggota Majelis Pertimbangan PAN karena merasa cocok dengan visi partai yang pluralis.

Dalam wawancara tersebut, Suwarno secara tegas menilai bahwa Tragedi 27 Juli 1996 dan Tragedi Semanggi merupakan bentuk tanggung jawab pimpinan ABRI lantaran kedua peristiwa berdarah itu melibatkan pasukan militer.

Menurut Suwarno, benturan dalam Tragedi Semanggi sebenarnya dapat dicegah apabila pihak-pihak yang terlibat saling akomodatif terhadap perbedaan. Penggunaan pendekatan intelijen dan tempur hingga tindakan penculikan terhadap elemen radikal dinilai tidak tepat, sebab penanganan massa maupun mahasiswa harus mengedepankan dialog agar tidak memicu chaos.

Ia juga berpendapat bahwa Jenderal Wiranto harus bertanggung jawab atas timbulnya korban jiwa dan mundur dari jabatannya sebagai Pangab.

Mengenai pimpinan nasional dan pemerintahan Habibie, kliping ini memperlihatkan posisi Suwarno yang menolak cara-cara ekstrem maupun politik bumi hangus. Ia mendorong penyelesaian masalah secara demokratis melalui pemilu, bukan dengan pemaksaan kehendak massa.

Bagi Suwarno, stabilitas nasional dan penegakan hukum—termasuk adilnya pengadilan mantan Presiden Soeharto serta redefinisi peran ABRI di DPR—harus dicapai melalui kompromi politik yang tertib, komprehensif, dan menyejukkan bagi seluruh lapisan masyarakat.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.