Wawancara Nurcholish Madjid: “Orang Islam Masih Suka Retorika” (Sinar, No. 51, 19 September 1994)

Rp 8.000,00

Penulis: Agung Puspito, Yudi Faisal, Diyan Srikandini, Erwin Hadi
Media: Sinar
Edisi: No. 51, 19 September 1994
Halaman: 51-57
Ukuran: 18,9 MB

  • Versi Produksi: Digital/PDF
  • Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 18

SKU: KL_5659 Kategori: Label , , , ,

Keterangan

Saat wawancara ini dibuat, Nurcholish Madjid menjadi anggota MPR dari Fraksi Karya Pembangunan dan anggota Komisi Hak-Hak Asasi Manusia Nasional.

Kutipan pernyataan Nurcholish Madjid:

“Pada 1960-an, universitas mulai dimasuki anak santri, dan ini yang dibaca dengan tepat oleh PKI. PKI menguasai seluruh kehidupan, kecuali kampus. Karena itu, sebelum mereka berontak, kampanye yang paling sengit adalah bagaimana menghancurkan HMI. Alhamdulillah tidak berhasil karena kita keburu kerja sama dengan militer, dengan Pak Yani.

“Nah, pada 1970-an, orang-orang ini mulai jadi sarjana di mana-mana dengan latar belakang HMI. Pada akhir 1970-an, ketika mereka sudah kawin dan punya anak, apa akibatnya? Bermunculan taman kanak-kanak Islam yang menjadi bibit, termasuk Al Azhar.

“Setelah mereka selesai dengan urusan rumah tangga, maka pada 1980-an mulai melihat keluar. Menjadi sponsor berbagai kegiatan Islam di seluruh kantor, marak, dan terjadilah ledakan harapan kepada Islam. Emosional sekali. Emosionalitas ini ditambah dengan kekecewaan karena Masyumi dibubarkan. Mereka tidak punya saluran, begitu. Jadi, orang-orang ini tumbuh melawan–fight against–pemerintah. Di mana-mana retorikanya antipemerintah. Amien Rais itu lebih-lebih lagi.

“Maka, saya berpikir, bersama teman-teman, ini tidak boleh berlangsung terus ….”

CATATAN: Jika Anda sulit untuk masuk di warungarsip.co, silakan hubungi jalur cepat Gudang Warung Arsip via SMS/Wasap ~ 0878-3913-7459 (Pesan Cepat)