Keterangan
“Tentang kebudayaan jang tidak didjembatkan dalam suatu pendjelmaan jang berwudjud tidaklah dapat dihargai sebagai demikian… Didjembatkan berarti dipindahkan dari batin sendiri kepada batin dunia luar. Itulah wudjud.”
“Oleh karena itu paham para pengandjur bangsa hanja satu: merdeka! Urusan jang lainnja akan mengikut dengan sendiri, dan beres sendiri djika kedaulatan telah dipegang bangsa sendiri.”
Kliping artikel ini memaparkan rencana pendirian Institut Kultur Politik melalui penjelasan mendalam mengenai tiga istilah pokok (artikata): Kebudayaan, Peradaban, dan Politik.
Bagian pertama membahas Kebudayaan (Kultur), yang didefinisikan sebagai penciptaan manusia yang sadar akan bakat dan semangatnya guna menjelmakan wujud batinnya. Kebudayaan terbentuk dari tiga unsur: kecerdasan (hidup pikiran berakar pada rasio), perasaan (hidup rasa), dan budipekerti (hidup budi berdasarkan pengalaman). Penulis menekankan bahwa bagi bangsa Indonesia, unsur rasa memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama dalam ilmu kebatinan atau kesunjataan. Mengutip Goethe dan Leopold von Ranke, ditegaskan bahwa kehidupan manusia dan rakyat sering kali dituntun oleh rasa yang mulia ketimbang pertimbangan rasio semata. Selain itu, kebudayaan sejati membedakan manusia dari dunia hewan karena melibatkan kesadaran estetika dan kebebasan, bukan sekadar naluri (instinct).
Bagian kedua mengulas Peradaban (Zivilisation), yang diartikan sebagai penyerahan diri manusia ke dalam aliran kehidupan masyarakat berdasarkan cara berpikir, bertindak, dan tingkah laku umum. Berbeda dengan kebudayaan yang bersifat asli dan kreatif, peradaban cenderung didasari oleh sifat meniru (nachahmung) demi mempertahankan kebudayaan atau mencari jalan aman karena ketakutan. Merujuk pada teori Oswald Spengler, peradaban merupakan tahap lanjut atau kemunduran dari kebudayaan yang mengarah pada kemusnahan (Untergang). Namun, peradaban juga dapat berfungsi sebagai instigator atau katalisator untuk membangkitkan rasa-luhur manusia melalui hukum dialektika Hegel.
Bagian ketiga menjelaskan Politik, yaitu usaha mempergunakan perhitungan menuju pada susunan, ragam, dan tata negara (Staatsgewalt). Penulis mengkritik pandangan Spengler yang menganggap politik anak-anak atau kepartaian awam sebagai lapisan kasar. Politik sejati adalah bentuk kesenian dan keterampilan kenegaraan (politeia). Di akhir artikel, penulis mengaitkannya dengan Kebangsaan (nasionalisme), yang dipengaruhi oleh pemikiran Ernest Renan dan Lothrop Stoddard, sebagai kehendak untuk bersatu. Bagi Indonesia, pergerakan kebangsaan bukanlah hadiah, melainkan tuntutan pemulihan martabat sejarah pasca-penderitaan masa kolonial—seperti sistem tanam paksa (cultuurstelsel)—demi mencapai kedaulatan penuh.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





